ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Rabu, 11 Agustus 2010

Kekuatan Tekad

Gedung sekolah desa yang kecil itu dipanasi oleh perapian batu bara
kuno yang berbentuk belanga. Seorang anak laki-laki kecil bertugas
untuk hadir pagi-pagi sekali di sekolah untuk menyalakan api serta
menghangatkan ruangan sebelum guru dan teman-temannya masuk.

Pada suatu pagi gedung sekolah itu tertelan api. Anak laki-laki itu
pingsan dan ia pun ditarik keluar dari bangunan yang terbakar itu,
dalam keadaan setengah mati dan bukannya setengah hidup. Ia mengalami
luka bakar yang parah di seluruh bagian bawah tubuhnya dan dibawa ke
rumah sakit daerah yang terdekat.

Dari tempat tidurnya, si anak laki-laki yang terbakar secara
mengerikan itu dalam keadaan setengah sadar sayup-sayup mendengar
dokter berbicara kepada ibunya. Dokter memberitahu bahwa anak itu
pasti akan mati, yang sesungguhnya merupakan hal yang terbaik,
lantaran kebakaran hebat yang meluluhlantakkan bagian bawah tubuhnya.

Namun anak pemberani itu tidak ingin mati. Ia meneguhkan tekadnya
untuk tetap bertahan hidup. Entah dengan cara bagaimana, hal yang
mencengangkan dokter itu, ia terus hidup. Ketika bahaya maut itu
berlalu, ia sekali lagi mendengar dokter dan ibunya berbicara dengan
pelan. Ibunya diberitahu bahwa karena kebakaran itu menghancurkan
begitu banyak daging di bawah tubuh anak itu, dapat dikatakan bahwa
akan lebih baik jika ia mati, karena ia pasti akan lumpuh seumur
hidup dan tak dapat memanfaatkan semua anggota tubuh bagian bawahnya.

Sekali lagi si anak pemberani itu mengeraskan tekadnya. Ia tidak akan
lumpuh. Ia akan berjalan. Tetapi celakanya, dari pinggang ke bawah,
ia tidak memiliki kemampuan bergerak. Kaki-kakinya yang kurus hanya
terjuntai di sana, lengkap namun mati.

Akhirnya ia keluar dari rumah sakit. Lalu setiap hari ibunya memijat
kakinya yang kecil itu, namun di sana tidak ada rasa, tidak ada
kontrol, tidak ada apa pun. Namun niatnya untuk berjalan tetap sekuat
dulu.

Hari-harinya menjemukan. Bila tidak sedang berada di tempat tidur, ia
terkurung di kursi roda. Pada suatu hari yang cerah ibunya mendorong
kursi rodanya keluar menuju halaman agar ia dapat menghirup udara
segar. Hari itu, bukannya duduk terpaku di situ, ia melemparkan diri
dari kursi roda. Ia menyeret dirinya sendiri melintasi rerumputan,
menarik kedua kakinya di belakang tubuhnya.

Ia menyusuri jalannya menuju tiang pancang berwarna putih yang
membatasi bidang tanah mereka. Kemudian, sedikit demi sedikit, ia
mulai menyeret dirinya sendiri di sepanjang pagar itu, bertekad keras
untuk berjalan. Ia mulai melakukan hal ini setiap hari sampai saat ia
menggunakan jalan yang mulus di sekeliling halaman di sisi tiang
pancang itu. Tak ada hal yang diinginkannya selain menghidupkan kedua
kakinya.

Akhirnya melalui pijatan setiap hari, tekad bajanya dan keteguhan
hatinya, ia benar-benar mengembangkan kemampuannya untuk berdiri,
kemudian untuk berjalan tertatih-tatih, lalu untuk berjalan sendiri,
dan kemudian untuk berlari.

Ia mulai berjalan ke sekolah, kemudian berlari ke sekolah, berlari
demi kegembiraan besar yang diperolehnya dari berlari. Kemudian di
universitas ia membentuk tim lari. Bahkan selanjutnya di Madison
Square Garden pemuda yang diduga tidak bakal hidup itu, yang tidak
pernah dapat berharap untuk bisa berlari.

Pemuda yang keras hati ini, Dr. Glenn Cunningham, memecahkan rekor
dunia lari untuk jarak 1500 meter.

Tidak ada komentar: