ALOHA

Blog ini berisi tentang warna-warni kehidupan yang mencakup semua aspek hidup manusia seperti iman, realitas hidup, sains, masalah-masalah sosial dan sastra.

Kamis, 02 Desember 2010

MASALAH-MASALAH SOSIAL DAN MEDIA MASSA (Tayangan Televisi dan Permasalahan Sosial Anak-anak dan Remaja)

PENDAHULUAN

Pada mulanya media massa memliki fungsi yang positif dimana media massa berfungsi sebagai institusi yang memberikan informasi yang edukatif dan hiburan yang edukatif. Sesuai dengan perkembangan jaman media masa telah bergeser menjadi industri yang mengejar untuk sebanyak-banyaknya. Pergeseran kepentingan menyebabkan media masa berorientasi untuk memproduksi sesuatu dengan cepat untuk mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Melihat hal ini media memiliki dua sisi yang berbeda yang sulit untuk dipilih.

Saat ini media bagaikan berada di persimpangan jalan, di satu sisi mereka harus mencari keuntungan karena media telah menjadi ladang yang besar untuk mencari keuntungan sehingga mereka harus mengikuti trend pasar di lain sisi mereka harus tetap menjadi institusi yang memberikan informasi yang edukatif. Bungin (2009, 332) memberikan ulasan bahwa media massa memiliki wajah ganda, dimana di satu sisi media masa sebagai agent of change yang mengubah masyarakat secara positif dan di sisi lain media massa sebagai agent of destroyer yang memicu munculnya masalah-masalah sosial di masyarakat.

Di sisi penonton media masa (televisi) bagi masyarakat Indonesia adalah media hiburan yang murah, mudah di dapat dan praktis. Televisi hari telah dinikmati oleh begitu banyak orang dan dapat memasuki ruang-ruang pribadi sesorang yang belum tentu dapat dimasuki oleh orang lain.

Perkembangan media di atas menyebabkan banyak permasalahan sosial masyarakat muncul. Permasalahan-permasalahan yang muncul karena produk-produk media massa adalah maraknya pornografi, kekerasan, pembunuhan karakter dan mistik (takhayul) (Bungin, 2009. 332). Para pakar dan akademisi bahkan memberikan satu prediksi bahwa media bukan lagi sebagai media hiburan tetapi menjadi corong propaganda, produsen dari permasalahan-permasalan sosial yang ada seperti tindak kekerasan, pornografi, mistikisme dll.

Secara tidak sadar peningkatan penayangan program (televisi) yang menampilkan tindak kekerasan, pronografi maupun takhayul semakin membuat masyarakat terbiasa dengan realitas yang dibentuk oleh media tersebut sehingga tanpa disadari realitas-realitas media ini menjadi bagian hidup dari masyarakat. Jika hal ini terus-menerus menjadi konsumsi masyarakat secara kontinyu maka akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimana media massa mengkonstruksi permasalahan-permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat melalui studi kasus satu program acara yang ada di televisi.

MASALAH SOSIAL MASYARAKAT SECARA UMUM

Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.( http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam-masalah-sosial-dalam-masyarakat). Masalah-masalah sosial kemasyarakatan hari ini mulai sangat kompleks dalam situs Solopos di jelaskan bahwa tindak kekerasan naik cukup signifikan dari 1.626 kasus pada 2008 menjadi 1.891 pada 2009 dan terdapat 891 kasus kekerasan diantaranya terjadi lingkungan sekolah (Solopos.com/2009/channel/nasional/jumlah-kasus-kekerasan-anak-di-indonesia-cenderung-meningkat-1894),
Selain tindakan kekerasan yang meningkat drastis dalam masyarakat Indonesia juga terdapat fenomena maraknya perceraian. Masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan adanya perceraian, padahal sampai tahun 1990-an suatu perceraian itu dianggap sesuatu yang tabu.


PERMASALAHAN SOSIAL ANAK-ANAK DAN REMAJA


Anak-anak dan remaja dalam makalah ini merujuk kepada kelompok manusia yang dalama tataran umur dibawah 18 tahun. Dimana pada fase ini mereka dalam fase pertumbuhan fisik maupun perkembangan mental. Surbakti (2008, 3-4) memberikan gambaran perkembangan fisik ditandai dengan perkembangan otot motorik kasar dan halus. Dalam umur 11 tahun mereka mulai mengalami perkembangan dalam hal hormon-hormon seksual yang menyebabkan perbedaan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan. Perkembangan mental (kognisi) ditandai dengan kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengelompokkan, mengingat, mengkhayal dan lainnya.

Dalam kelompok anak-anak dan remaja memiliki kecenderungan untuk mengetahui banyak hal, karena memang mereka dalam tahap perkembangan kognisi yang luar biasa. Kelompok anak-anak dan remaja pada umum lebih gampang dipengaruhi oleh hal-hal yang berada di luar mereka. Mereka dapat dengan cepat menyerap hal-hal yang di luar tanpa filter yang baik. Karena dalam sudut pandang psikologi dalam rentang kelompok anak-anak dan remaja belum dapat membedakan dengan baik antara hal yang dilakukan dengan konsekuensi-konsekuensi logisnya.

Perkembangan anak-anak dan remaja dalam mencari jati diri ini perlu bimbingan dan asuhan orang tua. Tanpa adanya bimbingan yang baik dari orang tua ataupun dari pihak-pihak yang lain dapat menyebabkan distorsi yang luar biasa dampaknya terhadap pembentukan jati diri si anak dan remaja. Pada dasarnya pertumbuhan anak dan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan di luar dirinya.

Perkembangan anak dan remaja yang terdistorsi ini akan menyebabkan kekacauan-kekacauan pola pikir. Kekacuan pola pikir ini akan berakibat pada tindakan-tindakan yang berseberangan dengan aturan-aturan sosial yang berdampak pada permasalahan-permasalahan sosial masyarakat.

Permasalahan sosial dalam kehidupan anak-anak dan remaja begitu meningkat akhir-akhir ini. Tindak kekerasan dalam diri anak-anak begitu meningkat tajam. Beberapa waktu yang lalu terdapat berita seorang berumur belasan tahun awal membunuh ibu asuhnya dengan sadis. Setelah membunuh ia membuang mayat ibu asuh itu ke dalam selokan. Ini hanyalah kasus kecil yang muncul dan terekspos. Survey-survey terhadap remaja hari ini juga begitu mencengangkan hasilnya. Beberapa survey menunjukkan bahwa anak-anak remaja di kota-kota besar khususnuya hampir di atas 50 % telah melakukan hubungan seksual.

Masalah-masalah sosial ini muncul tidak luput dari peranan media massa yang menjadi konsumsi anak-anak dan remaja. Saat ini rata-rata anak-anak ataupun remaja menghabiskan waktu mereka di depan televisi tanpa ada pengawasan dari orang tua. Bahkan orang tua terkadang berpikir lebih baik membiarkan anaknya duduk diam di depan televisi selama berjam-jam tanpa pengawasan mereka dibandingkan jika anak-anak mereka pergi bermain keluar rumah. Padahal ini sama saja membiarkan anank-anak berkelana bersama dengan televisi sampil membentuk imajinasi-imajinasi dalam pikirannya. Bila mereka di tdepan televisi secara kontinyu maka akan dapat membentuk pola pikir yang berpengaruh pada perilaku mereka.

Seorang anak akan dengan mudahnya menirukan perilaku agresif dan mereka menganggap itu adalah hal yang wajar karena mereka belum dapat membedakan dan memahami konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut. Contohnya ketika tayangan yang mengandung unsure adu kekuatan seperti Smack down maka anak-anak akan dengan cepat menirukan adegan-adegan itu. Karena mereka menyangka bahwa itu adalah satu fakta. Mereka akan dapat dengan mudah menyerap aksi-aksi brutal tersebut.


PEMBAHASAN


1. Sekilas Tentang Opera Van Java

Opera Van Java meruapakan program acara televise komedi di Indonesia yang disiarkan oleh stasiun Trans 7. Konsep acara ini mengadopsi konsep wayang orang, yaitu seni pertunjukan dari Jawa. Dalam pertunjukan Opera Van Java dipandu oleh seorang dalang yang diperankan oleh seorang comedian, Parto, selalin itu terdapat juga sinden-sinden yang bertugas untuk menyanyikan lagu-lagu selama pertunjukan dilaksanakan. Sementara itu tokoh-tokoh dalam pertunjukan opera Van Java ini diperankan oleh comedian-komedian seperti Azis Gagap, Sule, Nunung, Andre Taulani dan bintang-bintang tamu lainnya.

Walaupun ide dasarnya adalah pewayangan, namun cerita yang diangkat tak melulu cerita-cerita rakyat Indonesia, tapi bisa juga cerita dari negara lain, seperti Cinderella dan Sun Go Kong. Pada akhir acara, Ki Dalang Parto Patrio selalu mengucapkan kalimat terakhir khas Opera Van Java yang berbunyi: Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa. Ketemu lagi di Opera Van Java... Yaa... Eeee...!
Pertunjukan Opera Van java ini bila diperhatikan berlangsung secara serta nerta, tidak jelas jalan ceritanya. Plot-plot yang dimainkan oleh tokoh-tokoh selama berlangsung berjalan tanpa ada struktur yang jelas. Bahkan seringkali dalang ikut masuk dalam cerita pertunjukan dan berinteraksi drngan para pemain yang ada. Satu cirikhas pertunjukan ini adalah pemain dapat mempermainkan dalang yang seharusnya menjadi pengendali jalan cerita.

Opera Van Java ini merupakan satu program acara yang diminati oleh banyak pemirsa televisi terutama dari kalangan menengah ke bawah. Meskipun bukan program acara komedi yang favorit tetapi berdasarkan rating yang ada dalam indorating Opera Van Java bersaing ketat dengan acara Tawa Sutera. Peringkat rating tersebut dapat dilihat dalam table di bawah
Program Acara Satsiun TV Share Position
1. Tawa Sutera Anteve 4.842
2. Opera Van Java Trans 7 4.833
3. Anventure Of Suparman TPI 4.004
4. Abdel dan Temon Global TV 3.755
5. Suami-Suami Takut Istri Trans TV 3.676
6. OKB Trans 7 3.300

Opera Van Java diminati oleh banyak orang karena acara ini dianggap memberikan suasana yang segar dan kelucuan-keluacuan para pelakon terasa tidak dibuat-buat. Cerita yang kebanyakan menyimpang dari cerita aslinya, justru menambah warna-warni dalam setiap akting yang diperankan. Jadi bukan mengherankan jika banyak sekali orang menantikan Acara ini. Jam tayangnyapun sangat pas, ketika keluarga berkumpul dan menyatu dalam kehangatan.
Acara lawakan dengan menonjolkan perubahan setting lokasi atau latar belakang panggung seperti sudah biasa dilakukan pada acara lawak atau komedi lainnya. Bedanya di Opera Van Java, yaitu penggunaan property panggung berbahan Styrofoam yang siap dihancurkan
Misalnya melihat aksi Sule atau pemain lainnya yang menyuruh Aziz Gagap untuk menduduki kursi yang terbuat dari Styrofoam, yang pasti akan hancur berantakan. Property pentungan yang patah jika dipukulkan ke kepala.
Opera Van Java diselingi ’kekacauan-kekacauan’ yang menyimpang dari alur cerita membuat pemirsa menjadi tidak bosan. Jalan cerita dibuat seakan-akan sebuah ‘latihan’ bukan pertunjukan, menjadikan setiap pemain bebas untuk berimprovisasi dan melakukan ‘kesalahan’, sehingga penonton pun menjadi lebih santai. Inilah Indonesia…Opera Van Java Ya’eeee!

2. Tanggapan Tentang Acara Opera Van Java

Opera Van Java memang sebuah acara komedi yang ringan dengankelucuan-kelucuan yang sepontan, namun ironisnya kelucuan-kelucuan yang dikonstruksi oleh para pemain Opera Van Java dilakukan dengan cara yang kasar. Contohnya Sule, Aziz gagap, Andre, Parto dan Nunung adalah personel dari Opera Van Java. Mereka berupaya untuk membuat kelucuan kelucuan dengan cara yang tidak elegan. Sering kita temui mereka berupaya untuk membuat satu temannya agar terjatuh agar terlihat lucu, dipukul pertanda hal biasa, menendang, mendorong sampai merusak seluruh properti yang digunakan.

Bila mengikuti setiap episode Opera Van Java maka akan ditemukan suatu pola yang melanggar aturan-aturan kemasyarakat yang ada. Banyak adegan-adegan kekerasan yang ada di dalam acara ini. Kekerasan-kekerasan yang dikemas dalam bentuk komedi ini adalah:

1. Alur cerita dalam Opera Van Java seringkali di pelsetkan ataupun diselewengkan. Dalang dapatr masuk ke dalam arena pertujukan dan berinteraksi dengan pemain dan pemain dapat mepermainkan dalang. Meskipun ini menarik dan menunjukkan suatu bentuk kekreatifitasan serta lain daripada yang lain tetapi dilihat dari sisi strukrual memilki dampak yang tidak baik. Terjadi kesimpangsiuran peranan di dalam pertujunjukan Opera Van Java ini. Terkadang Dalang dipermainkan atau bahkan diatur oleh pemain-pemain yang harusnya tunduk kepada sang dalang tersebut. Dampaknya yang muncul adalah penonton anak-anak dan remaja yang mengkonsumsi acara ini secara berkelanjutkan terbentuk satu konsep pemikiran bahwa tidak ada nilai-nilai dan norma yang berlaku secara permanent. Mereka dapat berpikir bahwa melanggar aturan atau tradisi itu tidak masalah. Maka akibatnya bisa terjadi konflik-konflik. Bila semua orang memiliki konsep seperti ini maka akan begitu mudahnya konfli terjadi.

2. Dalam setiap episode Opera Van Java, selalu merusakkan properti-properti yang ada. Walaupun memang property itu merupakan benda-benda yang gampang dirusak dan dipersiapkan untuk dirusak, dan peristiwa ini menimbulkan kelucuan yang luar biasa. Dari adegan-adegan ini terdapat satu pesan bahwa, kita dapat mengubah tatanan masyrakat dengan mudah. Walaupun hal ini kelihatan ringan tetapi bila dikomsumsi secara berkesinambungan akan membentuk suatu pola pikir yang akan berpengaruh kepada pola tingkah laku. Terutama bila ini dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja yang memiliki dasar yang kuat maka lambat laun mereka akan meresapi pesan-pesan tayangan itu dan secara tidak disadari akan berpengaruh pada kehidupan nyata mereka. Apalagi tindakan “merusak” ini disajikan dalam suasana yang santai dan banyak orang yang tertawa seakan-akan menyejutui bahwa tindakan itu adalah tindakan yang biasa dn boleh dilakukan.

3. Banyak adegan-adegan kekerasan yang dipakai oleh Opera Van Java untuk mengundang tawa penonton. Seringkali antar pemain saling memukulkan barang atau saling mendorong pemain lain. Walupun memang properti yang dipakai adalah property yang aman, namun kebanyakan penonton yang berasal dari kalangan anak-anak ataupun remaja belum bisa membedakan realitas itu sebagai realitas palsu. Surbakti (2008, 129) memberikan penjelasan anak-anak sangat mudah meniru perilaku agresif karena mereka belum memahami konsekuensi tindakan agresif sebagaiman orang dewasa. Jadi sangat penting sekali memikirkan reaksi negatif yang akan timbul jika tayangan untuk konsumsi orang dewasa disaksikan juga oleh anak-anak kecil.

4. Ambiguitas identitas diri pemain. seringkali terjadi Pemain dalam satu episode seringkali bertingkah seperti perempuan dan sekaligus laki-laki Contohnya seringkali dalam cerita-cerita Opera Van Java memunculkan sosok perempuan tetapi diperankan oleh laki-laki. Ini juga dapat memberikan pengaruh yang buruk terhadap perkembangan kepribadian anak-anak. Dapat membentuk penyimpangan identas anak-anak. Seakan-akan tayangan itu memberikan sinyal kepada anak-anak ataupun remaja bahwa laki-laki berperan seperti perempuan dan sebaliknya adalah sesuatu yang wajar.

5. Banyak tindakan yang tidak sopan, seperti menempeleng kepala, mengatai-ngatai dan sebagainya. Atau juga bahasa-bahasa vulgar kadang-kadang dipakai dalam adegan-adegan ini di Opera Van Java. Perkataan-perkataan dan tindakan ini begitu gampang ditiru oleh anak-anak saat ini. Contohnya adalah ketika Sule salah satu personel pemain Opera Van Java menyerukan kata “prikitiu” maka banyak orang latah dengan menirukan perkatan itu. Kalau setiap hari orang melihat tontonan ini maka secara tidak sadar perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan itu akan meresap dalam diri penonton. Jika hal ini terakumulasi maka akan tertuang dalam tindakan-tindakan nyata.

Tontonan seperti Opera Van Java ini. Bahkan kalau diperhatikan acara seperti Opera Van Java ini mulai menjamur seperti di Anteve ada Seger Bener yang secara konsep mirip dengan Opera Van Java. Sinden Gosip di Trans TV yang semuanya menayangkan adegan-adegan yang mana kalau semua televise mempunyai konstribusi tayangan seperti ini dalam sehari, selama seminggu kemudian diakumulasi selama satu bulan maka berapa banyak tayangan yang dikonsumsi oleh pemirsa. Maka perubahan yang signifikan akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi.

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi media masa telah banyak berpengaruh terhadap kehidupan kemasyarakatan. Banyak tayangan-tayangan televisi yang menimbulkan permasalahan sosial. Secara perlahan tayangan-tayang televisi membentuk budaya-budaya kekerasan, pornografi, mistikisme. Bila media masa masih menjadi suatu industri yang mencari keuntungan maka dapat dipastikan akan terjadi perubahan besar terhadap budaya masa depan. Budaya kekerasan dan seks bebas akan menjadi budaya baru.

Masalah-masalah sosial yang diangkat olah media televise telah banyak berpengaruh terhadap perubahan dalam pola hidup dan budaya anak-anak maupun remaja dalam kehidupan sehari-hari. Karena dimanapun kapanpun ternyata remaja selalu membiracakan tayangan informasi terkini. Berarti bahwa media televise mampu menerobos ke jiwa anak-anak dan remaja dalam mengaplikasi tayangan televise pada kehidupan sehari-hari