ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Senin, 29 November 2010

TEORI MOTIVASI

Motivasi muncul karena adanya interaksi antara individu denga situasi, sehingga berakibat pada individu-individu memiliki dorongan motivasi dasar yang berbeda-beda. Stephen P. Robbin (2002:55) mengatakan motivasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dan menentukan kemampuan bertindak untuk memuaskan kebutuhan individu. Dijelaskan pula kebutuhan (need), diartikan suatu kekurangan secara fisik atau psikologi yang membuat keluaran tertentu terlihat menarik. proses ini dapat dilihat dalam gambar di bawah:

Motivasi oleh Akhmad Sudrajat (2008) diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Selain itu motivasi mremiliki makna proses yang ikut menentukan instensitas arah dan ketekunan dalam usaha mencapai sasaran. Dalam definisi ini dapat difokuskan lagi pada upaya untuk mencapai tujuan yang mencerminkan minat tunggal terhadap perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam pengertian diatas terdapat tiga unsur kunci dalam motivasi yaitu intensitas, arah dan berlangsung lama (Robins, 2008, 214).
a. Instensitas mengacu kepada sebeberapa keras sseorang berupaya.
b. Arah terkait kepada tujuan yang diharapkan akan dicapai, sehingga mempengaruhi bagaimana upaya itu dilakukan. Kaitannya dengan organisasi arah ini mengacu kepada hal-hal yang menguntung organisasi.
c. Berlangsung lama, merupakan ukuran tentang berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.
Dengan demikian motivasi ini merupakan kekuatan yang besar yang dapat mendorong sesorang untuk dapat mencapai sesuatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Semakin kuat motivasi sesorang maka akan semakin mudah untuk mendapatkan tujuan yang ditetapkan dan sebaliknya.

Teori Motivasi Periode Awal

Teori awal tentang motivasi muncul pada dekade 1950-an sebagaimana dijelaskan oleh Robbins (2008:214) terdapat tiga teori yang dirumuskan selama periode itu, yang meskipun dikritik habis-habisan dan saat ini dapat dipertanyakan kesahihannya (validitasnya), dan masih merupakan penjelasan-penjelasan yang terkenal mengenai motivasi karyawan: teori hierarki, teori X dan teori Y, dan teori motivasi higienis. Namun hendaknya kita mengetahui teori-teori awal paling tidak untuk dua alasan: (1) Teori-teori tersebut merupakan pondasi atau landasan teori-teori kontemporer, (2) Para Manajer praktisi masih menggunakan teori–teori ini dan terminologi secara teratur dalam menjelaskan motivasi karyawan.


1.1. Teori Kebutuhan Maslow
Teori motivasi yang sangat dikenal luas oleh orang yang pertama adalah teori Abraham Maslow seorang doktor Psikologi dari University of Winsconsin, Amerika Serikat. Sehingga tak heran bila teorinya tentang kebutuhan ini dilatar belakangi oleh teori-teori psikologi. Maslow (Robins, 2008, 214) memiliki hipotesis bahwa di dalam diri manusia bersemayam lima jenjang kebutuhan yang meliputi:
a. Psikologis
b. Keamanan
c. Sosial
d. Penghargaan
e. Aktualisasi diri
Apabila masing-masing kebutuhan dapat terpenuhi dengan baik secara subtansional maka kebutuhan berikutnya akan menjadi dominan.

Gambar Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial. Kebutuhan-kebutuahan yang paling penting itu meliputi kebutuhan fisiologis (Physiological need), kebutuhan akan keamanan dan keselamatan (safety needing), kebutuhan sosial (belonging needing), kebutuhan akan penghargaan (esteem needing) dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needing). Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Kebutuhan Maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Penjelasan tentang Hierarki Kebutuhan Maslow.
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological needing)
Kebutuhan Fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh seseorang. Bila kebutuhan fisiologis seseorang terpenuhi maka kebutuhan-kebutuhan lain yang di atasnya akan menjadi terabaikan. Kebutuhan fisiologis meiliputi kebutuhan akan sandang/ pakaian, kebutuhan akan pangan/makanan, kebutuhan akan papan /rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya. Tiga kebutuhan yang pertama disebutkan menjadi prioritas dari setiap orang, karena tanpa adanya pemenuhan kebutuhan tersebut maka niscaya seseorang akan sulit untuk dapat mempertahankan diri (survive).
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Safety needing)
Kebutuhan akan keselamatan dan kemanan ini merupakan kebutuhan tingkat kedua setelah kebutuhan fisologis ini terpenuhi. Kebutuhan akan keselamatan dan keamanan ini meliputi bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya. Secara global kebutuhan ini dapat dikelompokkan sebagai keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik maupun emosional.
3. Kebutuhan Sosial (Social/Belonging Needing)
Setelah kemanan yang merupakan bagian dari kebutuhan pribadi mulai terpenuhi maka mulai muncul kebutuhan akan rasa sosial sebagai akibat dari manusia sebagai makluk sosial (homo socius) yang mana manusia tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lain. Sesorang mulai merasakan kebutuhan untuk diterima dengan baik, untuk mendapatkan sahabat, untuk mencintai dan dicintai seseorang, kebutuhan akan keluarga dan lain.
4. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needing)
Setelah merasa diterima dan memiliki posisi maka seseorang mulai merasa perlunya akan penghargaan dari orang lain. Kebutuhan ini meliputi perlunya pujian akan sebuah prestasi, otonomi, hadiah. Hal ini diakibatkan adanya faktor penghormatan diri seperti seperti harga diri, otonomi, dan prestasi serta adanya faktor penghormatan dari luar seperti status, pengakuan dan perhatian (Robbins, 2008, 214).
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needing)
Kebutuahan ini merupakan puncak dari kebutuhan manusia setelah semua kebutuhannya dapat dipenuhi dan mendapatkan suatu kemapanan. Kebutuhan ini berupa adanya dorongan untuk menjadi seseorang/sesuatu sesuai ambisinya, yang mencakup pertumbuhan, pencapauin potensi dan pemenuhan kebutuhan diri.

1.2. Teori Kebutuhan McClelland

Selain teori Motivasi berdasarkan hierarki kebutuhan Abraham Maslow teradapat pula teori motivasi yang berdasarkan pada kebutuhan yang dicetuskan oleh McCleland. David Clarence McClelland (1917-1998) merupakan doktor dalam bidang psikologi dari University of Yale pada tahun 1941 dan menjadi profesor di Universitas Wesleyan. McClelland memelopori motivasi kerja berpikir, mengembangkan pencapaian berbasis teori dan model motivasi, dan dipromosikan dalam perbaikan metode penilaian karyawan, serta advokasi berbasis kompetensi penilaian dan tes. Ide nya telah diadopsi secara luas di berbagai organisasi, dan berkaitan erat dengan teori Frederick Herzberg. Menurut Mclelland, ada tiga hal yang melatar belakangi motivasi seseorang yaitu David McClelland dikenal menjelaskan tiga jenis motivasi, yang diidentifikasi dalam buku ”The Achieving Society”: motivasi untuk berprestasi motivasi untuk berkuasa, motivasi untuk berafiliasi/bersahabat.
1. The Need for Achievement (Kebutuhan akan Prestasi / Pencapaian)
Kebutuhan akan prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk memiliki pencapaian signifikan, menguasai berbagai keahlian, atau memiliki standar yang tinggi. Orang yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi biasanya selalu ingin menghadapi tantangan baru dan mencari tingkat kebebasan yang tinggi. Sebab-sebab seseorang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi di antaranya adalah pujian dan imbalan akan kesuksesan yang dicapai, perasaan positif yang timbul dari prestasi, dan keinginan untuk menghadapi tantangan. tentunya imbalan yang paling memuaskan bagi mereka adalah pengakuan dari masyarakat.
2. The Need for Authority and Power – Kebutuhan akan Kekuasaan
Kebutuhan ini oleh Robbins (2008, 223) dijelaskan sebagai kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara yang sedemikian rupa sehingga tidak akan bereprilaku sebaliknya. Menurut Mclelland, ada dua jenis kebutuhan akan kekuasaan, yaitu pribadi dan sosial. Kekuasaan pribadi dapat berwujud seorang pemimpin perusahaan yang mencari posisi lebih tinggi agar bisa mengatur orang lain dan mengarahkan ke mana perusahaannya akan bergerak. Sedangkan kekuasaan sosial berupa kekuasaan yang dimiliki oleh sesorang untuk kepentingan sosial, seperti misalnya perdamaian.
3. The Need for Affiliation – Kebutuhan akan Afiliasi / Keanggotaan
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjalankan hubungan yang baik dengan orang lain. McClelland mengatakan bahwa kebutuhan yang kuat akan afiliasi akan mencampuri objektifitas seseorang. Sebab, jika ia merasa ingin disukai, maka ia akan melakukan apapun agar orang lain suka akan keputusannya. Kebutuhan akan afiliasi ini mendapatkan perhatian yang kecil dari para peneliti.

1.3. Teori Motivasi Kebutuhan.

Sopiah (2008:169-170) menjelaskan motivasi dalam tiga karakteristik pokok yang meliputi usaha, kemauan yang kuat, serta arah dan tujuan. Ketiga karakteristik tersebut dapat dijanbarkan seperti dibawah ini:
a. Usaha : merujuk kepada kekuatan perilaku kerja seseorang atau juamlah yang ditunjukkan oleh seseorang dalam pekerjaannya. Usaha melibatkan berbagai macam kegiatan atau upaya nyata maupun kasat mata.
b. Kemauan yang kuat : menjelaskan kepada usaha seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaannya.
c. Arah atau tujuan : mengacu pada usaha dan kemauan keras yang dimiliki oleh seseorang.
Ketiga karakteristik pokok di atas menyiratkan suatu keadaan di mana usaha dan kemauan keras seorang diarahkan kepada pencapaian hasil-hasil atau tujuan tertentu. Hasil-hasil yang dimaksud bisa berupa produktivitas, kehadiran atau perilaku kerja kreatif lainnya.
Teori Motivasi Kebutuhan oleh Sopiah (2008, 172-174) dibagi menjadi tujuh dasar teori yang meliputi : descrepancy theory, equity theory, opponent theory , teori Maslow, teori ERG Alderfer, teori dua faktor dari Herzberg dan teori McClelland. Ketujuh teori motivasi kebutuhan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Discrepancy Theory

Discrepancy theory dikembangkan oleh Porter pada tahun 1961 dengan hipotesa kepuasan kerja merupakan selisih atau perbandingan antara harapan dengan kenyataan. Oleh Locke dalam (Gibson,1996), diuraikan bahwa seorang karyawan akan merasa puas bila kondisi yang aktual sesuai dengan harapan yang diinginkan.

2. Equity Theory

Equity Theory dikembangkan oleh Adam (1963) dalam Gibson (1996), yang mana dalam teori ini diuraikan bahwa individu akan merasa puas terhadap aspek-aspek khusus dalam pekerjaan seperti gaji, rekan kerja dan supervisi. Kepuasaan diperoleh bila aspek yang sebenarnya sesuai dengan yang seharusnya dia terima.

3. Opponent-Process Theory

Opponent-Process Theory dicetuskan oleh Landy pada 1978. dengan kepuasaan dari sudut pandang emosional. Artinya kepuasan individu ditentukan pada sejauh mana penghayatan emosional orang tersebut terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Bila situasi dan kondisi yang dihadapi dapat memberikan kesimbangan emosional maka orang tesebut akan merasa puas dan sebaliknya.

4. Teori Maslow

Teori ini dikembangkan oleh maslow pada tahun 1954 (dalam Gibson, 1996). Menurut Maslow, kebutuhan manusia berjenjang atau bertingkat, mulai dari tingkatan yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tingkatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Kebutuhan fisiologis (phisiological needs): yaitu kebutuhan dasar manusia agar dapat tetap bertahan hidup, sperti makanan, pakaian perumahan. (2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety needs), meliputi kebutuhan rasa aman dalam bekerja, keamanan untuk merdeka atau bebas dari ancaman. (3) Kebutuhan akan rasa memiliki, sosial dan kasih sayang (social needs)meliputi kebutuhan manusia untuk berinteraksi, berinteraksi dan berafiliasi dengan orang lain. (4) Kebutuhan untuk dihargai, yaitu kebutuhan manusia untuk merasa dihargai, diakui penghargaan dari orang lain. (5) kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization), kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang dengan menggunakan kemampuan, keahlian dan potensi dirinya secara maksimal.

5. Teori ERG Aldelfer

Teori ini dinamakan ERG berdasarkan tiga hipotesa yang dibentuk oleh Aldefer. E mengacu kepada kata existence (kebutuhan), R untuk kata relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan yang lain) dan G untuk growth (kebutuhan akan pertumbuhan). Dalam Teori ERG ini kebutuhan manusia oleh Aldefer dibagi dalam tiga tingkatan (Gibson, 1996) sebagai berikut: eksistensi, kebutuhan-kebutuhan manusia akan makanan, udara, gaji, air, kondisi kerja, keterkaitan kebutuhan-kebutuhan akan adanya hubungan sosial dan interpersonal yang baik, dan pertumbuhan: kebutuhan-kebutuhan individu untuk memberikan kontribusi pada orang lain atau oragnisasi dengan memberdayakan kreatifitas, potensi dan kemampuan yang dimiliki.
Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :

a. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
b. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
c. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

6. Teori Dua Faktor dari Herzberg

Frederick Herzberg melihat kepuasan kerja berasal dari faktor intrinsik dan faktor-faktor ekstrinsik. Penelitian yang dilakukan Herzberg menghasilkan:
a. Terdapat faktor ekstrinsik (konteks pekerjaan) yang mempengaruhi tingkat kepuasan meliputi: gaji atau upah, keamanan kerja, kondisi pekerjaan, status, kebijakan organisasi, supervisi, dan hubungan interpersonal.
b. Terdapat sekelompok kondisi intrinsik yang mempengaruhi tingkat kepuasan yang terurai dalam prestasi kerja, pengakuan, tanggung jawa, kemajuan, pekerjaan itu sendiri, dan pertumbuhan.

7. Teori Mc Clelland

David Mc Clelland membagi kebutuhan ke dalam tiga kategori, tiga kebutuhan yang di maksud adalah:
(1) Kebutuhan berprestasi (nAch)
(2) Kebutuhan berafiliasi (nAff)
(3) Kebutuhan akan kekuasaan (nPow)

Perbandingan teori-teori kebutuhan dapat dilihat pada gambar di bawah dimana pada gambar tersebut nampak bahwa pada dasarnya teori yang ada seperti teori ERG, Maslow dan teori dua faktor memiliki esensi yang sama, hanya pengelompokannya saja yang berbeda. (Sopiah, 2008, 174)

Tidak ada komentar: