ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Kamis, 02 Desember 2010

TEORI KOMUNIKASI MASSA

DEFINISI KOMUNIKASI MASSA :

Yang dimaksud dengan komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi melalui media massa., jelasnya merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass media communication). Para ahli komunikasi membatasi pengertian komunikasi massa pada komunikasi dengan menggunakan media massa, misalnya surat kabar, majalah,radio, televisi, film, internet.

Sehubungan dengan itu, dalam berbagai literatur sering dijumpai istilah mass communications (pakai s) selain mass communication (tanpa s) seperti disebutkan di atas. Arti mass communications (pakai s) sama dengan mass media atau dalam bahasa Indonesia, media massa. Sedangkan yang dimaksud dengan mass communication (tanpa s) adalah prosesnya, yakni proses komunikasi melalui media massa.

Joseph A Devito dalam bukunya : Communicology : an Introduction to the Study of Communication, menampilkan definisi mengenai komunikasi masa dengan lebih tegas, yakni :

“First, mass communication is communication addressed to the masses, to an extremely large audience. This does not mean that the audience includes all people or everyone who reads or everyone who watches television; rather it means an audience that is large and generally rather poorly defined.
Second, mass communication is communication mediated by audio and or visual transmitters. Mass communications is perhaps most easily and most logically defined by its forms : television, radio, newspaper, magazines, films, books, and tapes”

Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada halayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umunya agak sukar didefinisikan.
Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya : televisi, radio, suratkabar, majalah, film, buku dan pita).

FUNGSI KOMUNIKASI MASSA

Sebelum membicarakan fungsi komunikasi massa ada baiknya kita bicarakan dulu mengenai fungsi komunikasi itu sendiri karena komunikasi lebih luas dari komunikasi massa.
Menurut pakar komunikasi, Harold D Lasswell, proses komunikasi di masyarakat menunjukkan tiga fungsi :
1. Pengamatan terhadap lingkungan (the surveillance of the environment) penyingkapan ancaman dan kesempatan yang mempengaruhi nilai masyarakat dan bagian-bagian unsur di dalamnya.
2. Korelasi unsur-unsur masyarakat ketika meanggapi lingkungan (correlation of the components of society in making a response to the environment).
3. Penyebaran warisan sosial (transmission of the social in heritance). Di sini berperan para pendidik, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun di sekolah, yang meneruskan warisan sosial kepada keturunan berkutnya.

Selanjutnya Lasswell menyatakan bahwa di dalam masyarakat , proses komunikasi mengungkapkan ciri-ciri khusus ketika unsur-unsur yang berkuasa merasa takut pada lingkungan, baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Oleh Karena itu dalam menilai efisiensi komunikasi pada suatu ketika kita perlu memperhitungkan pertaruhan nilai-nilai dan identitas kelompok yang posisinya sedang dikaji.
Dalam buku Many Voice One World (Aneka Suara, Satu Dunia), dengan Sean Mac Bridge sebagai editornya, diterangkan bahwa fungsi komunikasi bila dipandang dari arti yang lebih luas, tidak hanya diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai tukar menukar data, fakta dan ide, maka fungsinya dalam setiap sistem sosial adalah : a. informasi, b. sosialisasi, c. motivasi, d. perdebatan dan diskusi, e. pendidikan, f. memajukan kebudayaan, hiburan, dan integrasi.
Menurut pendapat Yoseph R Dominick, mahaguru Universitas Georgia, Athens, Amerika Serikat dalam bukunya : The Dynamics of Communications, fungsi komunikasi terdiri dari : a. pengawasan (surveillance), b. Interpretasi (interpretation), c. hubungan (linkage), d. sosialisasi, e. hiburan.
Dari paparan di atas, fungsi-fungsi komunikasi dan komunikasi massa dapat disederhanakan menjadi empat fungsi saja :
- Menyampaikan informasi (to inform)
- Mendidik (to educate)
- Menghibur (to entertain)
- Mempengaruhi (to influence)

INFORMATION GAPS (Celah Informasi, Celah pengetahuan)

Latar belakang pemikiran ini terbentuk karena adanya arus informasi yang terus meningkat, yang sebagian besar dimungkinkan oleh media massa. Sejumlah peneliti menunjukkan bahwa peningkatan arus informasi seringkali menimbulkan efek negatif, di mana peningkatan pengetahuan pada kelompok tertentu akan jauh melebihi kelompok yang lain. Dalam hal ini information gaps akan terjadi dan akan terus meningkat sehingga menimbulkan jarak antara kelompok sosial yang satu dengan yang lain dalam hal pengetahuan mengenai topik tertentu.
Phillip Tichenor (1970) yang mengawali pemikiran tentang knowledge gaps ini menjelaskan bahwa ketika arus informasi dalam suatu sistem sosial meningkat, maka mereka yang berpendidikan yaitu mereka yang memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik, lebih mudah, lebih cepat, dalam menyerap informasi dibandingkan mereka yang kurang berpendidikan dengan status yang lebih rendah. Jadi meningkatnya informasi akan menghasilkan jurang /celah pengetahuan daripada mempersempitnya. Kemudian Everett M Rogers (1976) memperkuat asumsi tersebut dengan mengatakan bahwa informasi bukan hanya menghasilkan melebarnya knowledge gaps, tetapi juga gaps yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Komunikasi massa bukan satu-satunya penyebab terjadinya gaps tersebut, karena komunikasi langsung antar individu dapat memiliki efek serupa.

Sekelompok peneliti asal Swedia mengemukakan bahwa konsep yang disebut ‘potensi komunikasi’ dipandang sebagai alat untuk mencapai/mendapatkan nilai-nilai tertentu dalam hidup seseorang. Ukuran dalam bentuk potensi komunikasi tergantung pada tiga karakter utama :
1. Karakteristik pribadi Kemampuan orang seara alamiah seperti melihat atau berbicara, dan kemampuan untuk melalui pembelajaran seperti berbicara dalam beberapa bahasa yang berbeda. Di samping itu ia memiliki potensi komunikasi, pengetahuan, sikap dan kepribadian tertentu.
2. Karakteristik seseorang tergantung pada posisi sosialnya. Posisi ini ditentukan oleh variabel-variabel seperti penghasilan, pendidikan, umur dan jenis kelamin.
3. Karakteristik dari struktur sosial di mana seseorang berada. Salah satu faktor penting adalah berfungsinya primary group (misalnya keluarga, kelompok kerja), dan secondary group (misalnya organisasi, sekolah, klub) dalam hal komunikasi. Dalam konteks ini adalah relevan untuk menganggap masyarakat sebagai sistem komunikasi. Jika kita tempatkan konteks di atas dalam konteks media massa, maka kita harus menganggap tiga karakteristik tersebut sebagai variabel independen, dan tingkat pencapaian nilai dan tujuan sebagai variabel dependen (efek/konsekuensi).

Sebenarnya tidak hanya satu information gaps, tetapi banyak dan tidak sama antara satu dengan yang lain. Misalnya, ada gaps dalam informasi politik dan informasi tentang meningkatnya biaya hidup. Dari pemikiran tentang adanya berbagai information gaps dalam masyarakat, kita akan menemukan bahwa gaps yang berbeda terjadi dalam bentuk dan cara yang berbeda pula.
Selanjutnya beberapa anggapan menyatakan bahwa gaps cenderung meningkat seiring dengan waktu. Dalam kasus tertentu hal ini dapat terjadi, namun Thunberg (1979) menyatakan bahwa situasi sebaliknya dapat pula terjadi. Yaitu gaps yang pada awalnya melebar dapat pula menutup ketika kelompok yang status sosial ekonominya lebih rendah dapat menyusulnya. Dalam hal ini yang terjadi hanyalah persoalan waktu saja. Pada awalnya ketika kelompok yang diuntungkan karena memiliki akses dan exposure yang lebih baik memiliki potensi komunikasi yang lebih tinggi) dengan cepat mampu menyerap informasi tentang topik tertentu yang beredar di masyarakat. Meskipun demikian pada akhirnya kelompok yang memiliki potensi komunikasi rendah dapat menyusul penyerapan informasi tersebut sehingga gaps akan menutup. Model semacam ini disebut ceiling effects, artinya ada plafon atau batas tertentu dalam penyerapan informasi. Ceiling effects terjadi jika potensi informasi mengenai suatu topik tertentu adalah terbatas. Efek ini terjadi jika kelompok yang potensial tidak lagi memiliki motivasi untuk mencari lebih banyak informasi, semntara kelompok yang kurang potensial masih termotivasi, sehingga dalam waktu tertentu mereka juga akan menjadi well informed.

Meskipun demikian, Donohue (1975) menegaskan bahwa tidak semua gaps dapat menutup. Beberapa penelitian di Amerika menunjukkan bahwa perhatian yang besar terhadap media menghasilkan pelebaran gaps antara mereka yang berpendidikan tinggi dengan mereka yang berpendidikan rendah. Ketika suatu topik tidak lagi menjadi pembicaraan umum, sehingga tidak ada lagi atau hanya sedikit orang yang masih membicarakannya, gaps antara mereka yang masih berpotensi komunikasi tinggi dan mereka yang memiliki potensi komunikasi rendah akan tetap sama (tidak menutup) atau bahkan menjadi melebar.

Tidak ada komentar: