ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Selasa, 14 Desember 2010

LEVEL KOMUNIKASI

Perilaku komunikasi dalam tataran ilmu komunikasi dapat dibagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan konteks perilaku komunkasi tersebut.

Komunikasi Intrapribadi (Intrapersonal Communication)

Komunikasi intrapersonal merupakan level komunikasi yang terjadi dalam diri seseoarang. Riswandi (2009,9) menjabarkan komunikasi intarpersonal sebagai proses komunkasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi melalui pancaindra dan syaraf. Senada dengan Riswandi, West dan Turner (2008, 35) lebih mengerucut pada proses kognisi, simbol dan niat yang memilih oleh seseorang. Komunikasi pada tataran intrapersonal terjadi pada diri seseorang yang dapat berbentuk sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Komunikasi intrapersonal dapat terjadi bersamaan dengan seseorang berkomunikasi dengan orang lain.


Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)

Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara langsung. Mulyana menjabarkan (2001, 73) komunikasi yang terjadi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinakan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung baik secara verbal maupun verbal. Namun konsep bertatap muka saat ini dapat dikatakan kurang tepat lagi karena komunikasi antar pribadi dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang terbentang puluhan atau bahkan ratusan kilo meter dengan menggunakan alat komunikasi seperti handphone, chatting yang dilengkapi webcam. Sendjaja (2005) lebih menekankan pada proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Penjelasan  ini mengandung pengertian komunikasi sebagai proses yang mengacu kepada perubahan dan tindakan yang berlangsung terus menerus sebagai tindakan menyampaikan dan menerima pesan secara timbal balik, dimana di dalam terdapat kesamaan pehaman diantara orang-orang terlibat interaksi terhadap pesan-pesan yang digunakan dalam proses komunikasi tersebut.

Komunikasi Kelompok  (Small Group Communication)

Komunikasi kelompok kecil merupakan komunikasi yang terjadi pada kumpulan orang tiga orang atau lebih namun masih dalam lingkup jumlah orang yang tidak besar. Burgoon dalam Wiryanto (2005) menyatakan komunikasi kelompok kecil sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Di dalam kamunikasi kelompok kecil terdapat komunikasi intra pribadi maupun komunikasi antar pribadi sehingga Effendy (2004) menyebutkan sebagai komunikasi dengan sejumlah komunikasi.

Meskipun komunikasi kelompok kecil terdapat komunikasi antar persona tetapi komunikasi antar kelompok kecil memiliki perbedaan di dalamnya. Komunikasi jenis ini di dalamnya sudah termaktuf adanya tujuan yang akan dicapai dari komunikasi ini. Oleh karena itu West dan Turner (2008) mengatakan bahwa kelompok kecil bukan sekedar kelompok kerja keluarga ataupun kelompok pertemanan. Komunikasi kelompok kecil tidak hanya sekedar untuk berkumpul tanpa adanya tujuan tetapi sudah terdapat suatu arah yang jelas mengapa komunikasi itu berlangsung.

Komunikasi Organisasi (Organizational Communication)

Organisasi secara klasik yang ditinjau dari pandangan objektif oleh Pace & Foules (2005) dijelaskan sebagai suatu wadah yang menampung orang-orang dan objek-objek dalam organisasi yang berusaha menepati tujuan bersama-sama.  Merujuk dari pandangan ini dapat dikatakan organisasi merupakan sebuah sistem yang cenderung statis. Oleh karena itu komunikasi organisasi dapat diartikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Komunikasi organisasi difokuskan pada kegiatan pengawasan pesan yang terkandung dalam suatu batas organisasional (organizational boundary). Komunikasi organisasi merupakan suatu kegiatan yang terus berulang-ulang dan tidak banyak mengalami perubahan sehingga perilaku itu dapat diamati dan diukur dengan angka-angka untuk diambil suatu kesimpulan.

Organisasi dipandang dari sudut pandang interpetif diartikan sebagai hasil dari interaksi sekelompok orang. Organisasi tidak dapat dipisahkan dari proses komunikasi sebagaimana dijelaskan Pace & Foules (2005) organisasi dipandang sebagai orang-orang yang berinteraksi dan memberi makna kepada interaksi tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa organisasi tersusun atas interaksi-interaksi dari setiap orang yang ada di dalamnya. Bahkan dalam pandangan interpretif organisasi itu sangat identik dengan interaksi, maka sangat susah memisahkan organisasi dengan interaksi.

Proses komunikasi organisasi merupakan proses penciptaan makna atas interaksi yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberikan makna atas apa yang terjadi. Komunikasi organisasi terjadi secara dinamis dan terus berubah, sehingga proses komunikasi dalam organisasi ini harus diteliti secara cermat dan sangat sulit untuk digeneralisasi, karena komunikasi bersifat khusus sesuai dengan konteksnya.

Interaksi yang terjadi di dalam tubuh organisasi memiliki bentuk yang sangat kompleks karena di dalam komunikasi organisasi mencakup komunikasi intrapersona, interpersona maupun komunikasi kelompok kecil dan juga komunikasi yang lebih global.  Berdasarkan arah komunikasi yang terjadi di tubuh organisasi terbagi ke dalam beberapa jenis yaitu komunikasi vertikal, komunikasi horisontal maupun komunikasi diagonal. Jenis komunikasi ini terjadi sesuai dengan posisi setiap individu di dalam organisasi itu.

Komunikasi secara vertikal terbagi menjadi dua jenis yaitu komunikasi yang bersumber dari atas ke bawah dan dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari atas ke bawah merupakan komunikasi yang bersumber dari pegawai yang memiliki jabatan yang berotoritas tinggi kepada pegawai yang berotoritas lebih rendah sedangkan komunikasi ke atas merupakan komunikasi yang bersumber dari pegawai yang berotoritas lebih rendah kepada pegawai yang berotoritas lebih tinggi. Jenis komunikasi secara vertikal ini cenderung bersifat formal dan berkaitan dengan masalah pekerjaan.

Komunikasi horisontal merupakan komunikasi yang bersifat mendatar. Pace dan Foules (2001) menunjukkan komunikasi ini terjadi diantara rekan-rekan sejawat dalam unit kerja yang sama. Komunikasi horisontal lebih cenderung bersifat informal dan bahkan personal. Komunikasi horisontal dapat terjadi pada saat komisi, interaksi pribadi sewaktu istirahat yang dapat terjadi malalui telefon, obrolan di kantin, chatting dan sarana lainnya. Komunikasi horisontal ini dapat digunakan untuk membangun kebersamaan diantara pegawai.

Komunikasi organisasi pada dasarnya dilakukan secara sadar oleh para aktor pelakunya melalui interaksi yang terjadi secara intrapersona, antarpersona maupun interaksi dalam kelompok kecil (klik). Perilaku komunikasi yang nampak secara luaran seringkali tidak menampakkan realitas yang sebenarnya, untuk itu perilaku komunikasi para anggota organisasi ini perlu dibedah sehingga dapat dilihat sesuai

Tidak ada komentar: