ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Senin, 04 Juni 2012

ETIKA DAN MORAL SERTA PERMASALAHANNYA


 A. PENGERTIAN ISTILAH ETIKA


Ethics berasal dari kata Yunani Ëthos”. Istilah “etika” dipakai dalam dua macam arti. Yang satu tampak dalam ungkapan seperti “Saya pernah belajar etika”. Dalam penggunaan seperti ini etika merupakan atau dimaksudkan sebagai suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan mánusia. Makna kedua seperti yang terdapat pada ungkapan “Ia bersifat etis, atau “Ia seorang yang jujur”, atau “Pem­bunuhan merupakan sesuatu yang tidak susila”, atau “Kebohongan merupakan sesuatu yang tidak susila”, dan sebagainya. Dalam hal-hal tersebut “bersifat etik” merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-pe4uatan, atau manusia-manusia tertentu dengan hal-hal, perbuatan-pfrbuatan, atau manusia-manusia yang lain. “ Bersifat etik” dalam arti/yang demikian ini setara dengan “berfifat susila”.

Etika merupakan cabang filsafat yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat nilai betul (right) dan salah (wrong) dalam arti susila dan tidak susila. Kata right berasal dari bahasa Latin Rectus yang berarti lurus. 
Etika membicarakan masalah sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila  atau bajik.Atribut ini dinamakan kebajikan-kebajikan yang dilawankan dengan kejahatan-kejahatan  yang berarti menunjukkan bahwa orang yang mempunyainya dikatakan sebagai orang yang tidak susila. Sesungguhnya kesusilaan serta ketidak­susilaan bukan sekadar bersangkutan dengan kelakuan di bidang seks. Jika seseorang dikatakan tidak susila tidaklah selalu berarti di bidang seks. Orang yang mencuri, yang tidak adil atau yang kejam juga dapat dipandang sebagai orang yang tidak susila.

Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-ke­biasaan, nilai-nilai, norma-norma dan pandangan-pandangan moral secara kritis. Etika menuntut pertanggungjawaban dan mau menyingkapkan ke­rancuan. Etika tidak membiarkan pendapat-pendapat moral begitu saja melainkan menuntut agar pendapat-pendapat moral yang dikemukakan di­pertanggungjawabkan. Etika berusaha untuk menjernihkan permasalahan moral.

B. PENGERTIAN ISTILAH MORAL

Kata moral selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai ma­nusia Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas.

Ada banyak macam norma yang ha­rus kita perhatikan.
1.       Ada norma-norma khusus yang hanya berlaku dalam bidang atau situasi khusus. misalnya aturan bahwa bola tidak boleh disentuh dengan tangan, hanya berlaku kalau dan sewaktu kita main sepak bola dan kita bukan kiper. Begitu kita berhenti main, aturan itu dapat kita lupakan. Begitu pula aturan agama hanya berlaku bagi anggota agama itu. Peraturan tata tertib di kampus universitas hanya berlaku selama kita ber­ada di kampus itu. Norma-norma ini semua bersifat khusus.
2.       Norma umum ada tiga macam:
a.        norma-norma sopan santun
b.       norma-norma hukum
c.        norma-norma moral.

a. Norma Sopan Santun
Norma-norma sopan santun menyangkut sikap lahir­iah manusia. Meskipun sikap lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati dan karena itu mempunyai kualitas moral, namun sikap lahiriah sendiri tidak bersifat moral. Orang yang melanggar norma kesopanan karena kurang mengetahui tata krama di daerah itu, atau karena dituntut oleh situasi (mi­salnya kita mendorong ibu - ibu sampai jatuh ke sawah supaya tidak ter­tabrak oleh truk yang remnya blong) tidak melanggar norma-norma moral.

b. Norma Hukum
Setiap masyarakat mengenal hukum. Norma-norma hukum adalah norma-norma yang dituntut dengan tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu demi keselamatan dan ke­sejahteraan umum. Norma hukum adalah norma yang tidak dibiarkan dilanggar. Orang yang melanggar hukum, pasti akan dikenai hukuman Se­bagai sangsi. Tetapi norma hukum tidak sama dengan norma moral. Bisa terjadi bahwa demi tuntutan suara hati, jadi demi kesadaran moral, kita harus melanggar hukum. Kalaupun kita kemudian dihukum, hal itu tidak berarti bahwa kita ini orang buruk. Hukum tidak dipakai untuk mengukur baik-buruknya seseorang sebagai manusia, melainkan untuk menjamin ter­tib umum.

c.Norma Moral
Norma-norma moral adalah tolok ukur yang dipakai masyara­kat untuk mengukur kebaikan seseorang. Maka dengan norma-norma mo­ral kita betul-betul dinilai. Itulah sebab penilaian moral selalu berbobot. Kita tidak dilihat dari salah satu segi, melainkan sebagai manusia. Apakah seseorang adalah penjahit yang baik, warga negara yang selalu taat dan Se­lalu bicara sopan belum mencukupi untuk menentukan apakah dia itu be­tut-betul seorang manusia yang baik. Barangkali Ia seorang munafik. Atau ia mencari keuntungan. Apakah kita ini baik atau buruk itulah yang men­jadi permasalahan bidang moral.

C. PENGERTIAN ETIKET

Kedua istilah ini sering dirancukan pemakaiannya. Untuk memperjelas istilah tentang keduanya, perlu klarifikasi. Kedua istilah memang tidak sama tetapi tidak juga benar-benar berbeda. Kedua istilah tersebut memiliki persamaan dan sekaligus perbedaan.

Persamaan diantara keduanya

1. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia.
Hewan tidak mengenal etika maupun etiket.

2.Etika dan Etiket mengatur perilaku manusia secara normatif.
Memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Justru karena karena sifat normatif inilah kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

Perbedaan diantara keduanya

1.  Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan oleh manusia. Diantara beberapa cara, etiket menunjukkan cara yang tepat.
Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan tetapi etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri.Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh/tidak dilakukan

2.       Etiket hanya berlaku dalam pergaulan.Bila tidak ada orang lain ditempat tersebut maka etiket tidak berlaku.
Etika harus selalu dipatuhi (selalu berlaku) ada atau tidak ada orang lain.

3.       Etiket bersifat relatif.Yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan bisa dianggap sopan bagi kebudayaan lain.
Etika bersifat absolut.Istilah absolut ini memang juga menjadi perdebatan, seberapa jauh keabsolutan ini berlaku bagi semua orang. Hal ini akan dibahas lebih lanjut lagi pada berbagai pendekatan dalam etika.

4.       Etiket hanya memandang dari segi lahiriah manusia saja. Etika menyangkut dari segi batiniah. Orang yang etis adalah mereka yang benar-benar bersikap baik, tidak menampilkan kondisi yang berbeda antara lahir dan batinnya (munafik)

D. ETIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT

1.Moralitas Sebagai Ciri Khas Manusia

Masalah manusia dapat dilihat dari yang dipisahkan antara pilihan moral dan bukan pilihan moral. Masalah moral banyak muncul dan menjadi perdebatan dalam kehidupan manusia. Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal. Pada binatang hal itu tidak terjadi. Pada tahap binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan.

Mengenai keharusan, ada dua macam “keharusan”: keharusan alamiah dan keha­rusan moral. Keharusan yang pertama adalah keharusan yang iasanya didasarkan atas hukum alam sedangkan keharusan moral adalah ke­wajiban. Beberapa bahasa modern dapat menyatakan perbedaan antara keharusan alamiah dan keharusan moral itu. Dalam bahasa Inggris, umpamanya, kata must, should dan ought to ketiga-tiganya berarti “harus”, tapi must secara khusus di­pakai dalam arti keharusan alamiah, sedangkan should dan rnsght to dipakai dalam arti keharusan moral. Dalam bahasa Jerman kata müssen menunjukkan keharusan alamiah dan kata sollen digunakan dalam arti keharusan moral.

2.Etika: Ilmu tentang Moralitas

Etika adalah ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Ada tiga pendekatan yang dalam konteks ini sering diberikan, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika.

a.    Etika Deskriptif
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya, adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperboleh­kan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, dalam kebudayaan-kebudayaan atau subkultur-subkultur yang tertentu, dalam suatu periode sejarah, dan scbagainya. etika deskriptif hanya melukiskan, ia tidak memberi penilaian.

b.  Etika Normatif
Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang di mana berlangsung diskusi-diskusi yang pa­ling menarik tentang masalah-masalah moral. Di sini ahli bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, se­perti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan din dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia.

c.Metaetika
Metaetika ini dapat ditempatkan dalam rangka “filsafat analitis”, suatu aliran penting dalam filsafat abad ke-20. Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai tugas terpenting bagi filsafat atau bahkan sebagai satu-satunya tugasnya. Salah satu masalah yang ramai dibicarakan dalam meta­etika adalah the is/ought question. Yang dipersoalkan di smi ialah apakah ucapan normatif dapat diturunkan dari ucapan faktual. Kalau sesuatu ada atau kalau sesuatu merupakan kenyataan (is: faktual), apakah dari hal itu dapat disimpulkan bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought: normatif).

E.UKURAN-UKURAN ETIKA

Kesadaran tentang situasi moral (menghadapi alternatif, tuntutan hidup, dll) membawa manusia kepada ukuran etika.Ukuran-ukuran etika inilah yang akhirnya muncul dalam berbagai isme di dalam etika. Teori etika yang berdasar kepada tujuan (menganggap tindakan benar atau salah  dalam hubungannya dengan maksud dan tujuan yang dianggap baik) disebut teleological. Isme terbesar yang dikenal dalam hal ini adalah Hedonism, Epicureanism dan Utilitarianism.

1. Hedonism

Manusia diperlengkapi dengan daya kemampuan indrawi, intelektual dan spiritual. Perwujudan dan pemenuhan daya kemampuan tersebut membawa kepada rasa nikmat. Hedonisme berasal dari bahasa Latin Hedona yang berarti kelezatan.Sebagai ajaran etis,hedonisme berpendirian bahwa kenikmatan khusunya kenikmatan pribadi merupakan nilai hidup tertinggi dan tujuan utama dan akhir hidup manusia.

2.Epicureanism

Pada pokoknya epikurianisme merupakan etika yang mengejar kesenangan. Hampir sama dengan hedonisme, yang membedakan hedonismr membatasi kesenangan sebagai kesenangan sensual dan inderawi sedangkan Epikureanisme mengartikan kesenangan sebagai ketiadaan rasa sakit dan penderitaan batin. Kesenangan tertinggi adalah pada saat jiwa ada dalam keadaan damai dan tenang. Berpegang pada prinsip tersebut, para penganut isme ini menganggap tabu pada iri hati, ambisi, cinta fisik, menghindar dari keterlibatan berbagai kegiatan yang menurut anggapan mereka akan mendatangkan rasa stress, dll. Oleh karena itu gaya hidupnya mencerminkan kesederhanaan.

3.Utilitarianisme

Diturunkan dari bahasa Latin Utilis yang berarti berguna atau berfaedah.Isme ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna atau bermanfaat. Yang tidak berguna atau bermanfaat adalah buruk.Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, dll.

Utilitarianisme merupakan paham gabungan antara konsekuensialisme dan welfarisme. Konsekuensialisme berpendirian bahwa yang baik ditetapkan berdasrkan akibat. Bila akibatnya baik perbuatan itu baik dan sebalilnya. Sedangkan welfarisme berpendirian bahwa usaha manusia harus ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia.