ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Kamis, 06 Januari 2011

KECERDASAN DAN KEBERHASILAN

Banyak orang bermimpi memliki IQ/ tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Dengan memiliki IQ di atas rata-rata sepertinya dapat melakukan banyak hal yang orang lain tidak dapat lakukan dan meraih sukses besar dalam hidup. Namun faktanya tidak semua orang yang memiliki IQ di atas rata-rata dapat meraih sukses dalam hidupnya. Mengutip perkataan Albert Einstein yang mengatakan bahwa keberhasilannya hanya 1 % dipengaruhi oleh kegeniusannya (IQ) sedangkan 99 % dikarenakan usaha keras. Hal ini menunjukkan bahwa IQ di atas rata-rata bukan segalanya tetapi perlua diimbangi dengan EQ dan SQ atau dapat di katakan sebagai attitude.

Dalam kehidupan ini kecerdasan dan sikap perlu dikombinasikan. Kecerdasaan yang dieksploitasi habis-habisan tanpa disertai dengan attitude yang baik makaakan dapat menghancurkan diri sendiri atau bahkan umat manusia. Sebagai contoh penemuan dan pengembangan nuklir yang tidak disertai dengan attitude yang baik dapat menghancurkan lingkungan bahkan hidup manusia.
 
Dalam artikel ini saya akan mencoba memberikan cerita tentang kehidupan orang yang memiliki IQ (tingkat kecerdasan) yang di atas rata-rata tetapi hidupnya tidak banyak memberikan kontribusi bagi banyak orang. Bahkan orang yang demikian genius hidup sangat mengenaskan dan tidak memiliki arti apa-apa. Cerita tentang manusia super yang memiliki  IQ di atas rata-rata yang bernama William J Sidis ini diambil dari beberapa sumber. Kisah hidup William J Sidis dapat dilihat dibawah ini.
Mungkin nama William James Sidis masih asing dan kurang familiar di telinga kita. Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang? Ketiganya memang dianggap jenius-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Siapakah ia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250–-300?..


Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvard pun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari ! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun – sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. 

Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika – sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri. Ternyata orang yang jenius tak selama dapat hidup dengan bahagia dan menikmati kehidupannya.

Dari kisah hidup William Sidis ini menunjukkan bahwa kecerdasan bukanlah segalanya dalam kehidupan manusia. Masih perlu menambahkan attitude di dalam kehidupan untuk mendapatkan kesuksesan dan memiliki hidup yang bernilai bagi orang lain. Bagi kita yang memiliki tingkat kecerdasan pas-pasan tidak perlu berkecil hati karena kita masih tetap dapat hidup sukses yang terpenting adalah sikap untuk terus belajar dan bekerja keras dan mengucap syukur.

Tidak ada komentar: