ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Senin, 18 Oktober 2010

Cara Aman Menurunkan Bobot Tubuh

BOBOT tubuh di atas normal, apalagi bila telah mencapai kategori obesitas, sudah dibuktikan melalui berbagai penelitian empiris, merugikan kesehatan. Penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat tubuh antara lain naiknya risiko terkena penyakit jantung, diabetes, bahkan pada perempuan ada yang menghubungkan obesitas dengan risiko kanker payudara.

MESKIPUN tidak sedikit juga orang yang ingin melangsingkan bobot tubuhnya karena alasan penampilan, yang jelas menurunkan bobot tubuh sebaiknya tidak dilakukan dengan sembarangan. Prinsip paling utama yang harus disadari adalah bahwa bobot tubuh merupakan keseimbangan antara asupan kalori ke dalam tubuh dan yang dibakar oleh tubuh. Selain itu, yang lebih penting lagi, tiap orang adalah individu yang unik sehingga yang cocok untuk si A belum tentu cocok untuk si B.

Dokter spesialis gizi medis dr Kunkun K Wiramihardja, MS, yang mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung berpendapat, sebelum seseorang melakukan program pengurangan bobot tubuh dia harus mengetahui indeks massa tubuh (IMT)-nya. Ukuran yang berlaku internasional ini menunjukkan apakah seseorang sudah memiliki bobot tubuh ideal.

Hal yang sama dikemukakan ahli gizi RSPAD Gatot Soebroto, Yusnalaini Y Makawi. Ada lima prinsip dalam penurunan berat badan. Yakni, pengaturan pola makan (diet), psikoterapi atau perubahan gaya hidup, olahraga, penggunaan obat-obatan, dan pembedahan atau dengan bantuan alat yang lain.

"Tiga yang pertama merupakan ti- tik penting dalam usaha penurunan berat badan. Sedangkan dua yang terakhir sifatnya hanya membantu mempercepat proses penurunan. Jadi kedua prinsip terakhir bukan yang utama. Masalahnya orang sering membalik urutan itu," tukas Yusnalaini.

Orang membalik urutan tersebut karena mau mencapai berat badan yang diidamkan secara cepat. "Padahal percuma saja minum obat-obatan bila makan tidak dijaga," tukas Yusnalaini.
Menurut Kunkun, pada prinsipnya penyebab kelebihan bobot tubuh adalah unsur karbohidrat dan lemak. Karena itu, sebelum melakukan penurunan bobot tubuh, harus diketahui apa penyebab kegemukan seseorang. Selain itu, juga disarankan tidak lagi makan setelah pukul 19.00 karena biasanya aktivitas tubuh sudah rendah saat itu.

JIKA ingin menurunkan bobot badan, tidak boleh langsung menurun- kan dalam jumlah besar, melainkan harus bertahap, disiplin, dan di bawah pengawasan ahli. "Sebaiknya orang hanya menurunkan berat badan dua kilogram dalam sebulan, maksimal empat kilogram. Selebihnya, sangat berisiko," kata Yusnalaini.

Sedangkan jumlah penurunan yang baik adalah 5-10 persen dari bobot badan awal pada tahap perta- ma. "Jika dipaksakan lebih dari itu, maka risiko untuk kembali gemuk justru sangat besar," tambah Yusnalaini.

Jadi jika seseorang mempunyai bobot badan 86 kilogram dan ingin menurunkan bobot badan, maka yang diperbolehkan hanya 4,3 kilogram-8,6 kilogram untuk tahap awal. Jika dalam satu bulan hanya menurunkan dua kilogram, maka penurunan tahap awal bisa dicapai dalam waktu 2,5 bulan sampai 4,5 bulan. Setelah itu, untuk penurunan selanjutnya, harus dikonsultasikan kepada ahli.

Kemudian, untuk mengetahui apakah seseorang kurus atau gemuk, maka harus melihat Indeks Massa Tubuh (IMT). Cara menghitungnya adalah bobot dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat.

Misalnya, jika seorang punya bobot badan 86 kilogram dan tinggi badannya 170 sentimeter, maka IMT-nya adalah kelebihan bobot badan tingkat berat atau obesitas. Caranya, 86:2,89 (didapat dari 1,7x1,7), akan menghasilkan 29,75. Angka ini masuk ke katagori gemuk obesitas dalam tabel IMT.

Jadi jika dari tabel itu orang dengan katagori gemuk obesitas ingin masuk ke katagori normal, IMT-nya harus mencapai 18,5 - 25 (lihat tabel). Caranya, tinggal menghitung 2,89 x 18,5 = 53,46 atau 2,89 x 25 = 72,25. Jadi untuk tinggi badan 170 sentimeter, bobot normal adalah 53,46 kilogram sampai 72,25 kilogram.

"Jika orang bertubuh 86 kilogram dan ingin turun menjadi 72,25, maka dia tidak boleh langsung menurunkan 13,75 kilogram sekaligus, tetapi tetap harus mengikuti prinsip 2-4 kilogram setiap bulan," tambah Yusnalaini.

Menurut Kunkun, orang dengan MTI di bawah 18,5 termasuk kategori kekurangan gizi, sementara bila MTI-nya di atas 27 berarti mengalami kegemukan.

Meskipun begitu, bila seseorang setelah dihitung IMT-nya berada di luar nilai normal yaitu 20-25, menurut Kunkun tidak berarti orang itu menderita obesitas. Berat badan lebih ada banyak penyebabnya, antara lain harus diperhatikan massa otot dan tulang yang boleh jadi lebih besar dari rarata-rata.

"Perlu diteliti penyebab kegemukan agar kita mengetahui nutrisi yang diperlukan tubuh dan apa yang harus dibuang," jelas Kunkun.

HAMPIR semua program penurunan berat badan bisa efektif mengurangi berat badan, tetapi hanya jika dibarengi dengan mengurangi kalori yang dimakan dan menambah kalori yang dibakar.

Menurut Kunkun, diet secara drastis, misalnya dengan menghentikan makan sama sekali, atau hanya makan buah-buahan atau makan sayuran melulu.

"Tubuh memerlukan semua zat gizi, termasuk lemak. Makan buah pun jika berlebihan dapat menyebabkan kegemukan. Yang penting, makan secukupnya, empat sehat lima sempurna," tambah dia.

Diingatkan oleh Yunalaini, banyak orang tergoda obat pelangsingan karena ingin mendapatkan berat ideal dengan cepat. "Mereka lupa bahwa jika tubuh kehilangan berat dengan cepat, maka kemungkinan bobotnya kembali ke posisi semula juga semakin cepat. Ada ruang kosong di situ yang mudah diisi kembali," kata Yusnalaini.

Yang juga sering dilupakan konsumen adalah setelah meminum suplemen atau jamu penurun bobot tubuh, mereka tidak peduli terhadap asupan makanan dan olahraga.

Keadaan ini biasanya terjadi pada mereka yang mobilitasnya tinggi dengan posisi sosial tinggi yang mengakibatkan mereka sering harus menjamu atau dijamu makan. "Karena kondisi itu, biasanya mereka mengambil jalan pintas tanpa mau capai," kata Yusnalaini.

Kunkun dan Yusnalaini menekankan pentingnya mengubah pola makan, terutama ngemil. "Jangan misalnya, makan sambil nonton televisi," tambah Yusnalaini.

Sumber :Kompas

Tidak ada komentar: