ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Quotation

Rabu, 28 April 2010

AKHIR PENANTIAN



By. Agusto D'Santho

Di suatu senja yang mulai temaram dengan sinar rembulan yang malu-malu menampakkan diri yang berbaur dengan sorot lampu yang mulai bersinar di sepanjang jalan menemani Maria yang masih dirundung duka karena kehilangan Jew, sang ke kasih, yang tiba-tiba pergi ke luar negeri tanpa ada pemberitahuan.

Ia bergumam “Kenapa semuanya harus terjadi, kenapa Jew begitu jahat padaku, pada hal aku begitu meyayangi dia.”
Ia mendesah panjang ,”ehmmmmm….ah……hari-hari ini begitu berat, aku begitu lelah, Begitu beratnya aku untuk melupakan dia…”
“Bagaimana aku bisa menjalani hidupku tanpa dia., oh…Tuhan, kenapa semuanya harus terjadi”,lenguh Maria dengan mata berkaca-kaca dan pikirannya terus teringat masa-masa bersama Jew Adrianus.
Tanpa sadar kaki Maria mulai berjalan ke tengah jalan dan tiba-tiba dia dikejutkan suara mobil yang menderu dari arah belakang. Ia melompat ke tepi jalan yang berbatu dan dari dalam mobil terdengar suara kasar umpatan yang tidak begitu jelas karena bercmpur dengan suara raungan mobil dan jeritan kesakitannya. Maria hanya mendengar beberapa kata “Eh kalo jalan liat-liat dong, cantik-cantik jalan ko meleng.”
Dengan terbata-bata Maria menyahut…sambil menahan sakit”Eh ma….af…ma….af….”

Kejadian sore ini bukanlah yang pertama kali semenjak kepergian Jew, hampir tiap hari Maria nyaris celaka karena begitu seringnya pikiran melayang.
Sore ini meskipun dia lolos dari kecelakaan tetapi tetap saja kakinya lecet-lecet dan keseleo karena dia harus menghindari mobil yang melaju.

Sesampai di rumah Karren, ibunya begitu kaget melihat Maria dengan bajunya yang kotor berjalan tertatih-tatih memasuki rumah. Ia kerkata “Aduh…..Maria kamu kenapa lagi, udahlah sampai kapan sih kamu akan seperti ini. Cobalah kamu tenangkan pikiran kamu. Pelan-pelan kamu harus terbuka kepada orang lain. Kuliah kamu juga mulai berantakan dan lihat badan kamupun dah mulai kurus. Coba kamu pergi ke cermin dan lihat mata kamu begitu cekung dan mulai menghitam. Kalau gini terus siapa yang mau suka dengan kamu…”
“Udahlah bu, saya capek banget, biarkan saya istirahat,” kata Maria memohon.
Sambung ibu Maria “Aduh… punya anak gadis ko seperti ini..”
“Tapi kan saya ga…he..he” sahut adik Maria yang tiba-tiba masuk dan menimpali pembicaraan..
“Eh kenapa lagi tukh ma, aduh demen banget nih orang celaka, kemarin keserempet motor sekarang apa lagi nich..” Adik Maria terus neyerocos.
Dengan kesel Maria menyahut “Udah-udah pusing saya nich jadinya. Aku mo ke kamar dulu”

Malam perlahan mulai larut, tetapi Maria tak kunjung dapat tidur meskipun fisiknya begitu kecapekan, badannya pegal-pegal dan perih karena luka-lukanya. Tetapi ia terus merenung mengapa begitu teganya Jew meninggalkan dia. Bahkan sudah hampir satu bulan dia telah meninggalkannya tapi tak ada sedikitpun kabar. Ia merasa hari-hari begitu berat dan begitu lama. Semangatnya, keceriaan yang dulu menjadi ciri khasnya telah pupus dan tak dapat dijumpai lagi.



---oooo---

Kicau burung di kejauhan berdendang dengan merdu membangunkan mentari yang terlihat malas untuk menampakkan diri ditambah lagi kabut yang begitu pekat karena semalam telah turun hujan. Maria mulai beranjak dari tempat tidur meskipun begitu tak bersemangat, wajahnya begitu sayu. Dia mulai mandi dan berangkat ke kampus.
Sesampai di depan kampus terlihat beraneka warna bunga-bunga yang bermekaran menandakan musih hujan sudah mulai datang, namun suasana ini sangat kontras dengan suasana hati Maria yang begitu galau.

Memasuki gerbang kampus terlihat seorang pemuda yang tinggi tegap dan berpakian rapi, sosok ini sepertinya belum pernah terlihat sebelumnya dilingkungan kampus. Dilihat dari penampilannya yang rapi dan berkemeja pasti dia bukan seorang mahasiswa.
Tiba-tiba laki-laki itu menghampiri Maria dan manyapa dia, “Hei…aduh pagi-pagi ko kusut banget, nanti hilang lho kecantikannya.”
Namun Maria tetap terdiam dan tak memberi jawaban apapun.
“Eh…ko cembetut terus dari tadi, kenapa emang.” Sahut pemuda itu.
“Ga ko, ga ada apa-apa.” Kata Maria sambil nyelonong pergi menuju kelasnya, tanpa ada respon apapun melihat pemuda ganteng yang ditemuinya.

Pukul 08.00 Maria masuk ke kelas dan di dalam kelas sudah berdiri sesosok pemuda tampan yang ditemui di depan kampus tadi pagi, tiba-tiba pemuda itu menyapa, “Pagi…lho kamu ikut kelas ini.”
“Iya..”sahut Maria datar.
“Wah ternyata memang benar-benar jodoh ya.” Pemuda itu bercanda .
“Kamu kenapa ada disini, bukannya ini kelasnya Pak Wisnu, kamu bukan mahasiswa baru kan?” Maria mulai bertanya agak jutek.
“Ya jelas bukan dong, hem…mulai hari ini aku menjadi dosen kelas ini menggantikan Pak Wisnu yang sakit stroke..” jelas pemuda itu…
“Apa…ga salah? Pak Wisnu kena stroke…?ah ga…. mungkin, kok aku ga tahu ya?”, Maria terbelalak..
“Ya begitulah, hari minggu yang lalu Pak Wisnu masuk rumah sakit dan sekarang aku menggantikannya untuk mengajar mata kuliah Hukum Perdata ini.”
“Ya udahlah.”Jawab Maria pendek.
“Eh ngomong-ngomong nama kamu siapa? Aku lihat dari tadi kamu begitu murung, tidak ada semangat.” Pemuda itu mencoba untuk mengenali Maria lebih dekat.
“Nggak pentinglah siapa aku, nanti juga kenal. Kamu juga ga harus tahu kan apa yang aku alami.”, Maria mencoba untuk mengelak.
“Ehm..rahasia nich. Ya sudahlah…kalau begitu. Kelas juga sudah mulai penuh.”, menutup pembicaraan.”
Maria duduk di bangku belakang, dan di kembali murung. Sepanjang kelas ia tidak berkonsentrasi. Ia hanya mendengar satu kalimat yaitu Dosen barunya itu bernama Andrew Subrata, lulusan S2 hukum dari Harvard University, Amerika Serikat, selebihnya ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh dosen baru itu.
Dua jam berlalu dan kelaspun berakhir. Di akhir kelas Andrew kembali menghampirinya, “Maria…saya tidak salah memanggil kan, nama kamu benar Maria?’ Tanya Andrew.
“I…ya…kenapa?” Maria tersadar dari lamunannya.
“Kamu Maria kan, kamu ini sebenarnya ada apa, aku lihat sepanjang kelas kamu tidak konsentrasi. Tatapan mata kamu begitu kosong dan sepertinya kamu memikirkan sesuatu yang berat. Kamu boleh kok share ke aku tentang problem kamu..”, jelas Andrew.
“Eng…gak ko, aku ga ada apa-apa. Ya uda ya aku mau pulang dulu…ketemu lagi minggu depan.” Maria bangun dari kursinya dan pergi meninggalkan Andrew.
“Ok..bye…”,sahut Andrew.

Sabtu pagi yang cerah itu Maria mencoba untuk menyegarkan pikirannya dengan berlari-lari kecil mengelilingi taman di kompleks perumahan tempat tinggalnya. Ia berlari sendirian karena tidak mau diganggu oleh siapapun termasuk adiknya yang agak sedikit cerewet itu. Tiba-tiba dari belakang terdengar panggilan seorang pemuda
“Maria….hei…Mar…ia,”
“Andrew?” Maria terkejut “Kamu ngapain di sini…buntuti aku ya…”
“Duh…ge..er banget sih,”, sahut Andrew
“Enggak, siapa yang ge..er. Terus nagapain dong di sini?, sergah Maria..
“Duh kamu ini, jutek banget sih jadi orang, aku lagi jogging, aku tinggal di Jl. Angrek IV/6 si ujung jalan itu.” Jelas pemuda itu.
“Ap…..a? Ha…jadi kita tetanggaan donk.”, Maria bengong.
“O…iya wah, kebetulan banget. Rumah kamu di mana…?”, Tanya Andrew semangat.
Namun tiba-tiba Maria kembali murung, ia enggan untuk menunjukkan alamat rumah.
“Kamu ini sebenarnya kenapa sih Mar?”Tanya Andrew sambil mengerenyitkan kening.
“Ga apa-apa, nggak perlu kamu tahu..”, Maria berkelit
Tapi tiga kali kita ketemu kamu begitu sedih, padahal aku dengar dari teman-teman kamu di kampus dulu kamu adalah seorang bintang kampus, kamu begitu ceria. Beda banget dengan Maria yang aku kenal.”Andrew mencoba Maria.
“Itu kan dulu…sekarang aku bukanlah siapa-siapa?”Maria menjawab sambil matanya berkaca-kaca..
Di sepanjang jalan itu akhirnya Maria bercerita bagaimana Jew pacar yang dicintainya mulai dari kelas 2 SMA pergi begitu saja ke luar negeri tanpa ada pemberitahuan dan alasan apapun juga. Ia begitu mencintainya bahkan dia berharap Jewlah yang akan menjadi suaminya, bahkan seluruh keluarganya juga sudah menyetujui hubungan mereka. Kini sudah empat bulan perpisahan itu, namun tak ada kabar dari dirinya.
Tak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah Maria, Andrew memberikan satu perkataan sebelum mereka berpisah. “Aku tahu apa yang kamu rasakan hari ini, Tapi cobalah untuk menunggu sejangka waktu siapa tahu ada sesuatu yang terjadi dengan Jew, tapi juga cobalah untuk terbuka terhadap orang lain supaya kamu tidak terus-terusan larut di dalam kesedihan. Jangan menyendiri begini dong. Yuk semangat dong…kembali jadi Maria yang seperti dulu. Aku percaya bahwa penantian kamu tidak sia-sia Kalau mendengar pembicaraamu Jew orang yang baik, pasti dia ada sesuatu alasan yang kuat melakukan ini. Bye…”Andrew memberikan semangat
“Yaeh, ga tahulah….Oke..tanks ya sudah menemani aku. Bye juga…”Maria melambaikan tangan dan masuk ke area rumahnya.

Satu tahun sudah Maria berteman dengan Andrew. Andrew dan Mariapun mulai akrab satu dengan yang lain. Secara perlahan Maria menemukan kembali dirinya yang dulu, ia telah menjdi sosok yang periang lagi dan satu bulan lagi gelar sarjana segera di dapatkannya. Andrewpun telah menjadi teman yang setia baginya meskipun tak ada kejelasan status mereka berdua..

---ooo---

Di siang hari yang panas tiba-tiba dua orang pemuda ganteng datang mengetuk pintu rumah Maria.
“Permisi…permisi…Maria”
“Ya..tunggu..”, sahut Ibu Maria dari dalam.
Terdengar suara pintu dibuka, dan Ibu Maria terkejut “Eh…Eh..nak Jew. Baru datang nich. Silahkan masuk, sebentar ya aku panggilkan Maria. Silahkan duduk”

“Maria…Mar…ada yang mencari kamu.”, Teriak Ibu Maria
“Siapa sih bu, siang-siang begini ke rumah ga biasanya.”, jawab Maria sambil bangun dari ranjang menuju ke ruang tamu dan dia terkejut tatkala matanya tertuju kepada seorang pemuda tampan yang selama ini telah meninggalkan. “Ha…Jew…benarkah itu. Oh my God.” Gumam Maria.
“He… Maria, Aku sangat merindukanmu” Sapa Jew sambil bangun dari tempat duduk seraya mau memeluk Maria.
Tetapi Maria berusaha menghindari Jew. “Tidak, jangan!”kilah Maria.
“Memang kenapa, kamu sudah tidak kangen lagi dengan aku atau kamu sudah melupakan aku.”, Jew kaget melihat penolakan Maria.
“Apa kau bilang Jew, kamu kemana aja selama satu tahun lebih. Aku menangis kehilangan kamu. Aku berapa kali hampir celaka karena memikirkanmu. Hari-hariku begitu sepi, tapi….Ah…tidak ada satu kabarpun dari kamu. Aku telah sekian lama menunggu kamu, aku hampir putus asa kehilangan kamu, dan hampir-hampir kuliahku hancur berantakan. Jew aku sangat mencintaimu.” Jelas maria.
“Lalu mengapa sekarang engkau menghindari pelukanku. Aku sangat menderita berpisah & berapa banyak surat yang aku kirim ke kamu.”,
“Apa….? Surat, aku tak pernah mendapatkan surat dari kamu. Bahkan selama satu tahun ini tidak ada kabar dari kamu baik dari email maupun sms bahkan telepon.”
“Justru itu, Maria. Aku tidak tahu email kamu dan hape aku hilang sewaktu diperjalanan ke Jerman. Seluruh nomor di dalam HP itu hilang. Aku tidak tahu harus menghubungi kamu bagaimana. Keprgianku waktu itu begitu tiba-tiba sehingga aku tidak sempat lagi memberitahukanmu apalagi minta email kamu atau apapun tentang kamu. Yang aku tahu hanyalah alamat rumah kamu. Dan aku hanya bisa kirim surat ke kamu tetapi setiap surat-surat aku tidak ada balasan dari kamu.”
“Tapi aku tak pernah mendapatkan surat darimu”
“Tapi….surat-surat aku juga tak pernah kembali ke aku, lalu….ke mana dong surat-surat aku.”, Jew makin bingung.
“Jew, aku tidak tahu dan aku selama ini begitu merindukan kamu…” Maria menyahut.
“Tapi…kamu masih mencintai aku kan…?”Tanya Jew.
“Aku tak tahu, jujur aku masih mencintai kamu tapi saat ini aku juga dekat dengan seorang lelaki yang selama ini kamu pergi telah membangkitkan semangat aku. Memang aku belum pacaran dengan dia tetapi saat ini akupun mulai menyukainya. Ah…aku ga tahu Jew.”
“Oke…aku memang bersalah, waktu itu aku pergi begitu mendadak. Aku tak tahu lagi bagaimana aku bisa menghubungimu. Ya…sudahlah sekarang semuanya ada di tangan kamu.”Jew mendesah pasrah, “Memang aku begitu mencintaimu, selama setahun lebih aku memendam perasaan kangen kepadamu…namun..”

Tiba…tiba ada Adrew datang ke rumah Maria dan dia terkejut melihat Jew sepupunya ada di situ juga. “Hei…Jew kamu di sini jadi kamu kenal dengan Maria.”
“Hei…Maria itu pacar aku…”, Jawab Jew.
“Ha….jadi kalian saling kenal?”, Maria terbelalak
“I..ya Andrew ini sepupu aku?”jawab Jew
“Ya …ampun, kenapa kok kamu tidak pernah cerita sih kalo kamu itu sepupunya Andrew. Oh my God….dan kamu tahu nggak selama ini dialah yang aku ceritakan ke kamu.” Jari Maria tertuju kepada Andrew.
“Dialah orang yang selama ini meninggalkan aku begitu saja tanpa ada kabar.”, imbuh Maria.
“Jadi Jew yang kamu maksud itu sepupu aku? Oh….jadi surat-surat yang selama ini datang ke rumah kamu itu untuk kamu.”, kata Andrew sambil mengerenyitkan dahi.
“Apa…surat.”, Tanya Jew dan Maria bersamaan.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita ke aku.”, Maria mulai penasaran.
“Cerita…mana aku tahu, di dalam surat itu di alamatkan ke nomor rumah aku, jalan Angrek IV/6 dan aku tidak tahu kalau selama ini kamu pacaran dengan Jew. Aku baru pulang dari Jerman setelah satu bulan Jew pergi ke Jerman. Aku tinggal di sini juga setelah pulang dari Jerman. Jadi aku tidak pernah tahu kalau Jew yang dimaksud dalam surat itu adalah Jew kamu.”Jelas Maria.
“Oke…aku sekarang ingat, berarti surat itu salah alamat. Rumahku ini Jl Anggrek VI/4.” Jelas Maria.
“Terus sekarang surat-surat itu masih ada ngga?”Jew penasaran.
“Masih ada, lengkap. Aku simpan semuanya, aku tak pernah membuka satupun dari surat itu. Oke…aku ambil dulu surat-surat itu ke rumah.”, Andrew buru-buru pulang.


Setelah kepergian Andrew, Maria dan Jew saling terdiam. Tetapi Jew memulai pembicaraan. “Ma….ria, jadi selama ini kamu dekat dengan Andrew. Kamu suka sama dia.”
“Ehm…aku ga tahu Jew. Ya, memang dialah yang selama ini menemani aku setiap waktu setelah kamu pergi. Jujur aku mulai menyukai dia, tetapi sampai hari ini aku tidak tahu apakah dia menyukai aku atau tidak, karena dia tak pernah mengungkapkan perasaan kepadaku.”, Maria menghela nafas.
“Kalau memang kamu menyukai dia, aku berusaha untuk merelakan kamu. Karena aku sadar selama ini tidak ada di samping kamu, apalagi Andrew orang juga baik. Memang meskipun….ini sangat berat untuk aku begitu mencintaimu”
Tiba-tiba Andrew masuk dan menyodorkan setumpuk surat kepada Maria, “ nich suratnya kamu baca.”
Buru-buru Maria membaca surat-surat yang ada ditangannya. Dia mulai menangis membaca surat Jew.
“Kenapa harus seperti ini. Aku ga tahu harus bagaimana…?”Maria sesenggukan.
“Uda..uda…”, hibur Jew.
“Emang ada apa?”Andrew kebingungan.
“Oke…begini Drew, gimana perasaanmu terhadap Maria?”Tanya Jew kepada Andrew.
“Maksudnya???”Andrew makin bingung.
“Maksudku, kamu kan sudah satu tahun dekat dengan Maria, apakah kamu perasaan kepada Maria.”lanjut Jew
“Suka dengan Maria? Jew aku kan sudah punya pacar, sekarang dia ada di Australia sedang menyelesaikan S2-nya.”jelas Andrew.
“Apa…ja……….di selama ini…?” Jew dan Maria kaget.
“Kenapa kamu mendekati aku…ka…mu ingin mempermainkan aku?”Maria mulai kesal.
“Enggak, aku tidak pernah mempermainkan kamu. Apakah selama ini aku pernah merayu kamu? Selama ini aku kasihan melihat dirimu yang begitu putus asa. Aku mendengar dari teman-teman kamu bahwa kamu begitu berubah. Sangat sayang kan kalau kamu yang berprestasi gagal kuliah dan berubah hanya karena cinta.”, jelas Andrew.
“Kamu menyindir aku.” Kata Jew dengan nada tinggi.
“Sudah jangan panas..hati dulu. Yuk kita selesaikan dengan pikiran dingin.” Andrew mencoba mencairkan suasana yang mulai memanas.
“Tapi…kamu begitu jahat…kenapa kamu tidak pernah menjelaskan kepadaku kalau kamu sudah punya pacar.”Maria mulai emosional.
“Karena kamu tidak pernah bertanya kepadaku, jadi buat apa aku katakana. Sekarang semunya sudah jelas, kamu juga sudah baca surat-surat Jew, meskipun sudah terlambat.” Andrew diam sejenak
Lanjutnya “Ternyata apa yang kamu kira tidaklah seperti kenyataannya. Kamu lihat Jew juga begitu menderita berpisah dengan dirimu.”Andrew mulai menenangkan Maria. “Dulu kukatakan kamu perlu terbuka terhadap orang lain bukan untuk permasalahannya. Tapi semua hanya karena komunikasi yang tidak lancar dan keadaanlah yang membuat semuanya terjadi.”imbuh Andrew.
“Kamu masih mencintaiku…Maria.”Tanya Jew.
Masih sesenggukan Maria menjawab “Ya…aku masih mencintaimu, maafkan aku yang salah menilaimu.”
“Maafkan aku juga yang dulu begitu ceroboh, menyepelekan mencatat setiap hal yang penting. Ternyata akibatnya begitu fatal.”, Jew meminta maaf ke Maria sambil memeluk gadis yang dirindukan selama ini.
“Tanks ya Drew, telah memberikan semangat dan menemani ku. Sori kalau di awal pertemuan kita dulu tidaklah menyenangkan.”Maria malu-malu.
“Nggak pa…pa? O, iya, tadi aku ke sini sebenarnya ingin memberitahu kalau besuk Magdalene pulang ke Indonesia.”Papar Andrew dengan senyuman bahagia.
‘O..iya…wah akhirnya kita dapat bersama-sama.”, Maria tertawa.
“Nah begitu dong, akhirnya diujung penantian ini, harapanmu tidaklah sia-sia.”Andrew menimpali.


----ooo----

Tidak ada komentar: