ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Jumat, 24 April 2015

Logika

A. Arti Logika

Apakah Logika itu? 

Dalam percakapan sehari-hari kata logis dipergunakan untuk menyatakan perilaku logis yang dilawankan dengan perilaku tidak logis dengan jalan pikiran yang logis.. Kata logis yang dipergunakan tersebut diartikan dengan masuk akal. Dengan berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, apa sebetulnya Logika itu belum dapat diketahui. 


Kata Logika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani Logike yang berasal dari kata Logos yang memiliki makna harafiah sebagai kata atau  ucapan. Ucapan berarti yang diucapkan, dilisankan atau  disebutkan. Ucapan  merupakan hasil proses berpikir manusia. Berpikir dapat diartikan pula sebagai penggunaan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Kata pengertian berarti proses, cara, perbuatan memberi arti. Dengan demikian maka logika merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
Logika memliki sangkut paut yang erat dengan pengetahuan tentang kaidah berpikir dimana kaidah berpikir merupakan rumusan asas-asas yang menjadi hukum atau aturan yang tentu yang menjadi patokan dalam berpikir. Secara singkat dapat dikatakan Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat).


Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan tentang pokok-pokok/hal-hal tertentu yang bersifat spesifik. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Berbicara tentang ilmu pengetahuantidak dapat dilepaskan dari objek kajian. Objek kajian ilmu pengetahuan ini adalah azaz yang menentukan pemikiran yang lurus dan tepat. Untuk dapat berpikir lurus, tepat, logika menyelidiki, merumuskan dan menerapkan hukum – hukum yang harus dipatuhi.

Selain logika sebagai ilmu pengetahuan logika juga merupakan ketrampilan karena kaidah berpikir dalam logika juga dapat diterapkan/dipraktekkan. Berpikir secara logis perlu diasah dan dilatih sehingga menjadi terampil dalam penggunaannya. 

Berdasarkan pengertian ini dapat dipahami bahwa obyek material pada dasarnya masih menyangkut hal/bidang yang umum. Oleh karena itu mungkin saja terjadi berbagai ilmu pengetahuan memiliki obyek material yang sama. Obyek formallah yang membedakan satu bidang dengan bidang yang lain karena seperti dinyatakan sebelumnya bahwa obyek formal adalah sudut pandang yang digunakan untuk menyoroti suatu bidang kajian. Disinilah letak kekhasan sebuah disiplin ilmu. Jadi dapat disimpulkan bahwa obyek material logika adalah berpikir (khususnya pelaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

MACAM-MACAM LOGIKA

Mempelajari tentang logika maka kita dapat membedakannya dalam dua macam logika. Meski demikian keduanya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. 

Logika alamiah

Manusia pada dasarnya adalah makluk logis yang mana secara kodrati manusia diciptakan dengan dilengkapi oleh akal budi. Tidak peduli apakah dia berpendidikan atau tidak akal budi manusias memiliki fungsi yang sama, perbedaannya hanya pada tingkat kepekaan dan kekritisannya. Akal budi dapat bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara yang spontan. Tetapi dalam hal-hal yang sulit baik akal budinya maupun seluruh diri manusia dapat dan nyatanya dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Selain itu baik manusia sendiri maupun perkembangan penge­tahuannya sangat terbatas.

Hal-hal ini menyebabkan bahwa kesesatan tidak dapat dihindar­kan. Namun dalam din manusia sendiri juga terasa adanya kebutuh­an untuk menghindarkan kesesatan itu. Untuk menghindarkan kese­satan itu diperlukan suatu ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Karena itu muncullah

Logika ilmiah

Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Berkat pertolongan logi­ka ini dapatlah akal budi bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, le­bih mudah dan lebih aman. Dengan demikian kesesatan juga dapat dihindarkan atau, paling tidak, dikurangi.

B. Sejarah Penggunaan Logika


Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.

1. Masa Yunani kuno

Logika dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.

Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif.
Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
Air jugalah uap
Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.

Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini. Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme. Buku Aristoteles to Organon (alat) berjumlah enam, yaitu:
  1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
  2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
  3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
  4. Analytica Priora tentang Silogisme.
  5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
  6. De sophisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangn logika. Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.Johanes Damascenus (674 - 749) menerbitkan Fons Scienteae.

2. Masa Abad pertengahan dan logika modern

Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika. Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:Petrus Hispanus 1210 - 1278). Roger Bacon 1214-1292. Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian. William Ocham (1295 - 1349).

Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding. Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum. J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic. Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti: Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian. Menyusul kemudian tokoh-tokoh pengembang logika seperti George Boole (1815-1864), John Venn (1834-1923)  dan Gottlob Frege (1848 - 1925). Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs)

Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970). Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain.

D. Guna Logika

Untuk apa logika dipelajari? 

Logika dipelajari agar orang yang mempelajarinya memiliki kecerdasan logika dan mampu secara cerdas menggunakan logikanya.  Kecerdasan logika adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah atau menjawab suatu pertanyaan ilmiah. Dalam hubungan ini logika digunakan untuk memecahkan suatu masalah saat seseorang menjabarkan masalah itu menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, dan menyelesaikannya sedikit demi sedikit, serta membentuk pola/ menciptakan aturan-aturan (rumus). Logika juga digunakan agar mampu menggunakan metode ilmiah dalam menjawab suatu pertanyaan. Metode ilmiah ini secara singkat berarti membuat hipotesa, menguji hipotesa dengan mengumpulkan data untuk membuktikan atau menolak suatu teori, dan mengadakan eksperimen untuk menguji hipotesa tersebut. 
 
sumber : inspirable.com
Seseorang yang memiliki kecerdasan logika akan dengan cerdas pula menggunakan logikanya  sehinggga akan memiliki salah satu atau lebih kemampuan di bawah ini: 
1. memahami angka serta konsep-konsep matematika (menambah, mengurangi, mengali, dan membagi) dengan baik. 
2.    mengorganisasikan/ mengelompokkan kata-kata/ materi (barang) 
3.    mahir dalam menemukan pola-pola dalam kata-kata dan bahasa
4.  menciptakan, menguasai not-not musik, dan tertarik mendengarkan pola-pola dalam jenis musik yang berbeda-beda. 
5.   menyusun pola dan melihat bagaimana sebab-akibat bekerja dalam ilmu pengetahuan. Hal ini termasuk kemampuan untuk memperhatikan detil, melihat pola-pola dalam segalanya, mulai dari angka-angka hingga perilaku manusia, dan mampu menemukan hubungannya 
Contoh 
  • seseorang yang menghabiskan waktu di dapur menggunakan logikanya untuk menerka berapa lama waktu untuk memanggang sesuatu, menakar bumbu, atau merenungkan bagaimana caranya menghidangkan semua makanan agar siap dalam waktu yang bersamaan. 
  • seorang detektif kriminal menggunakan logikanya untuk mereka ulang kejadian pada kasus kejahatan dan mengejar tersangka pelaku.
6.  menciptakan visual (gambar) untuk melukiskan bagaimana ilmu pengetahuan bekerja, termasuk menemukan pola-pola visual dan keindahan ilmu pengetahuan (contohnya: menguraikan spektrum cahaya dalam gambar, menggambarkan bentuk-bentuk butiran salju, dan mahluk bersel satu dari bawah mikroskop), mengorgansisasikan informasi dalam tabel dan grafik, membuat grafik untuk hasil-hasil eksperimen, bereksperimen dengan program animasi komputer.
7. menentukan strategi dalam permainan-permainan yang memerlukan penciptaan strategi (contohnya catur, domino) dan memahami langkah-langkah lawan.
8. memahami cara kerja dan bahasa komputer termasuk menciptakan kode-kode, merancang program komputer, dan mengujinya.
 

Tidak ada komentar: