ALOHA

Blog ini berisi tentang warna-warni kehidupan yang mencakup semua aspek hidup manusia seperti iman, realitas hidup, sains, masalah-masalah sosial dan sastra.

Rabu, 23 Maret 2011

DAMPAK TIDUR DITEMPAT TERANG


Banyak orang merasa bahwa tidur dengan cahaya yang terang memberikan kenyamanan, terutama bagi orang-orang yang takut tidur di dalam kegelapan. Mereka yang takut gelap tidak bisa tidur tanpa adanya cahaya. Ternyata tidur dengan ditemani oleh cahaya tidak terlalu bagus bagi kesehatan tubuh kita baik secara psikis maupun secara fisiologis. Berikut ini adalah dampak negatif tidur dibawah cahaya yang terang yang saya dapatkan dari beberapa sumber:

A. Menyebabkan Depresi

Penelitian Ohio State University mengungkap, tidur dengan lampu menyala bisa membuat perasaan tidak tenang atau resah saat bangun. Cahaya lampu di ruang tidur ternyata memengaruhi struktur otak dan meningkatkan kemungkinan depresi.

Cahaya yang dipancarkan televisi atau lampu temaram pada malam hari juga berdampak negatif pada kesehatan mental. Ini merupakan peringatan terbaru seputar gangguan tidur yang bisa memicu bahaya kesehatan.

Tim peneliti mengatakan memang tidur dalam kondisi gelap gulita memang sangat sulit tercipta. Tapi, demi mengurangi efek buruknya, upayakan tidur dengan kondisi cahaya seminim mungkin.
Dalam penelitian yang dipresentasikan dalam Society for Neuroscience di Amerika Serikat itu, tim peneliti melakukan percobaan terhadap hewan pengerat yang diberikan paparan cahaya selama delapan jam atau lebih saat tidur.

Hamster yang terkena cahaya terang di malam hari menunjukkan gejala depresi lebih tinggi dibandingkan dengan hamster yang mendapat paparan cahaya redup. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan terjadi perbedaan struktur daerah otak yang disebut hippocampus antara dua kelompok hamster itu.

Hippocampus
memainkan peranan penting dalam munculnya depresi, jadi perubahannya akan signifikan. Bahkan cahaya redup di malam hari sudah cukup untuk memprovokasi perilaku depresi.

B. Menyebabkan Kanker

Para ilmuwan menemukan bahwa tubuh perlu suasana gelap dalam menghasilkan zat kimia pelawan kanker. Bahkan ketika menyalakan lampu toilet, begadang, bepergian melintas zona waktu, lampu-lampu jalanan dapat menghentikan produksi zat melatonin.

Tubuh memerlukan zat kimia untuk mencegah kerusakan DNA dan ketiadaan zat melatonin tersebut akan menghentikan asam lemak menjadi tumor dan mencegah pertumbuhannya.

Prof. Russle Reiter dari Texas University yang memimpin penelitian tersebut mengatakan “Sekali Anda tidur dan tidak mematikan lampu selama 1 menit. Otak Anda segera mendeteksi bahwa lampu menyala seharian dan produksi zat melatonin menurun”.

Jumlah anak-anak pengidap leukimia naik menjadi dua kali lipat dalam kurun 40 tahun terakhir. Sekitar 500 anak muda dibawah 15 tahun didiagnosa menderita penyakit ini pertahun dan sekitar 100 orang meninggal.

Sebuah konferensi tentang anak penderita leukimia diadakan di London menyatakan bahwa orang menderita kanker akibat terlalu lama memakai lampu waktu tidur dimalam hari dibanding dengan yang tidak pernah memakai lampu waktu tidur.

Hal ini menekan produksi melatonin dimana normalnya terjadi antara jam 9 malam s/d jam 8 pagi. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa orang-orang yang paling mudah terserang adalah para pekerja shift yang memiliki resiko terkena kanker payudara.

Pada kenyataannya, Orang-orang buta tidak rentan terhadap melatonin memiliki resiko yang lebih rendah mengidap kanker. Maka para orang tua disarankan utk menggunakan bola lampu yang suram berwarna merah atau kuning jika anak-anaknya takut pada kegelapan.

C. Meningkatkan Resiko Diabetes
Mematikan lampu saat tidur malam tidak hanya menghemat tagihan listrik, tetapi juga baik untuk kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidur dalam kondisi kamar terang benderang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Joshua Gooley, ahli kesehatan dari Harvard Medical School di Boston. Dalam eksperimen yang dilakukan 5 hari berturut-turut tersebut, Gooley melibatkan 116 partisipan berusia antara 18-30 tahun.
Para partisipan dibagi menjadi 2 kelompok, salah satunya dikondisikan untuk berada di ruangan yang terang benderang selama 8 jam sebelum tidur. Kelompok yang lain ditempatkan di ruangan yang lebih redup dengan durasi yang sama yakni 8 jam.
Hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil tiap 30 menit menunjukkan produksi hormon melatonin turun 50 persen pada partisipan yang berada di ruangan terang. Hormon ini mengatur jam biologis yang berhubungan dengan siklus antara tertidur dan terbangun.
Selain memicu rasa kantuk, melatonin juga berhubungan dengan beberapa jenis penyakit serius. Reseptor melatonin yang terletak di saraf disebut-sebut bisa meningkatkan risiko kanker dan diabetes tipe 2 jika aktivitasnya berkurang.