ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Sabtu, 26 Februari 2011

MENELISIK MAKNA KEDEWASAAN

Setiap manusia mempunyai perkembangan fisik yang sama, mulai dari kandungan, lalu setelah lahir menjadi bayi, Balita, anak-anak, lalu remaja dan semakin lama menjadi tua, tetapi tidak menjamin orang sudah tua lantas menjadi dewasa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dewasa itu dimaknai sebagai akil balig, sampai umur, sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Lebih tepatnya, makna itu adalah dewasa jika ditinjau dari segi biologi. Sedangkan kalau dari segi hukum dewasa berarti ketika seseorang telah berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Paling tidak kedewasaan dapat dilihat dari beberapa perpektif di bawah ini:


 1. Kedewasaan Secara Biologis
Ini adalah kedewasaan yang tidak bisa ditawar-tawar, pasti akan datang pada setiap orang yang normal. Dalam istilah seharai-hari yang disebut sebagai tua. Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu pilihan. Ketika  lahir ke dunia masih berujud bayi mungil, dengan bobot paling banter 3 atau 4 kg. Karena nutrisi masuk ke tubuh  maka berangsur-angsur tumbuh menjadi besar.

2. Kedewasaan Secara Psikologis
Kedewasaan ini ditandai dengan matangnya kita secara psikologis, yakni emosi kita menjadi terkendali alias memiliki self of control yang tinggi. Kita mampu mengoptimalkan potensi yang kita miliki dan memanfaatkan untuk kebaikan manusia. Ketika seseorang telah dewasa secara psikologis, biasanya ia akan mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain, dan lebih dari itu, ia mampu memanfaatkan hubungan tersebut ke arah yang lebih positif. Ia juga sudah bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang tidak, mewujudkan dalam tindakan nyata, dan berani memikul tanggungjawab atas segala sesuatu yang ia kerjakan.

3. Kedewasaan Secara Sosiologis
Orang sering menyebutnya telah ‘mapan’ alias telah memiliki kelas sosial tersendiri. Mungkin dia telah menyelesaikan pendidikannya, memiliki kemampuan finansial yang cukup, pekerjaan yang pas dengan potensinya dan sebagainya. Bisa juga diartikan, dia sudah cakap untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai makhluk sosial.
Kedewasaan itu mempunyai ukuran tertertu. seperti : dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sudah bisa mempersiapkan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang, kalau dia tidak mempersiapkan dirinya untuk lebih baik di masa sekarang. paling penting adalah orang dewasa adalah orang yang sadar kalau dirinya tidak lagi anak-anak yang selalu merengek, mengeluh, tidak menerima kenyataan, dll.

Biasanya pengalaman menjadi hal penentu seseorang manjadi dewasa. dia banyak belajar dari kesalahan yang sudah diperbuatnya, walaupun dia pernah mendengar cerita, melihat pengalaman orang lain, tetapi tidak sebanding dengan apa yang telah ia rasakan sendiri.
apakah kita merasa belum dewasa selama ini, ataupun memang sudah ada kesadaran pemikiran kedewasaan selama ini dari diri kita.
mari kita rasakan diri kita, rasakan lingkungan kita, rasakan waktu yang telah memakan usia kita.  Pada intinya sadar dan dapat memposisikan diri kita

Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya.
  1. Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri.
  2. Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati.
  3. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain.
  4. Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai.
  6. Tidak berusaha menganalisis  secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif  tentang keberadaan dirinya.
  7. Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse).
  8. Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya  tindakan persiapan.
  9. Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan.
  10. Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha  membatasi sikap egois.
  11. Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants).
  12. Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong).
  13. Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran.
  14. Berusaha memperoleh kepemilikan  (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi.
  15. Mengelola ketakutan diri (manages personal fears)
  16. Dapat melihat berbagai “bayangan abu-abu”  diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi.
  17. Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri.
  18. Memiliki kesadaran akan ketidakamanan  diri dan harga diri.
  19. Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi  sesaat.
  20. Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan.

Tidak ada komentar: