ALOHA

Blog ini merupakan coretan dari berbagai permasalahan baik tentang iman, pandangan hidup, kumpulan bahan perkuliahan, masalah kesehatan dan masalah-masalah lain dalam kehidupan manusia. Blog ini hanyalah sebuah media untuk sharing tentang berbagai hal.


“Sometimes the questions are complicated and the answers are simple.”(Dr. Seuss)

Quotation

Jumat, 04 Juni 2010

Teori Kepemimpinan Transaksional

Teori Kepemimpinan Transaksional (Transactional Leadership Theory) mendasarkan pada asumsi bahwa kepemimpinan merupakan kontrak sosial antara pemimpin dan para pengikutnya. Pemimpin dan para pengikutnya merupakan pihak-pihak yang independen yang masing-masing mempunyai tujuan, kebutuhan dan kepentingan sendiri. Sering tujuan, kebutuhan dan kepentingan tersebut saling bertentangan sehingga mengarah ke situasi konflik. Misalnya, di perusahaan sering tujuan pemimpin perusahaan dan tujuan karyawan bertentangan sehingga terjadi peerselisihan industrial.
Dalam teori kepemimpinan ini hubungan antara pemimpin dan para pengikutnya merupakan hubungan transaksi yang sering didahului dengan negosiasi tawar menawar. Jika para pengikut memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu untuk pemimpinnya, pemimpin juga akan memberikan sesuatu kepada para pengikutnya. Jadi seperti ikan lumba-lumba di Ancol yang akan meloncat jika pelatihnya memberikan ikan. Jika pelatihnya tidak memberikan ikan, lumba-lumba tidak akan meloncat.

Prinsip dasar teori kepemimpinan transaksional adalah:
(1) Kepemimpinan merupakan pertukaran sosial antara pemimpin dan para pengikutnya.
(2) Pertukaran tersebut meliputi pemimpin dan pengikut serta situasi ketika terjadi pertukaran
(3) Kepercayaan dan persepsi keadilan sangat esensial bagi hubungan pemimpin dan para
pengikutnya.
(4) Pengurangan ketidak pastian merupakan benefit penting yang disediakan oleh pemimpin.
(5) Keuntungan dari pertukaran sosial sangat penting untuk mempertahankan suatu hubungan
sosial.
Catatan: Anda dapat baca lebih lanjut dalam buku Dr. Wirawan, MSL, Sp.A, MM, MSi. Kapita selekta teori kepemimpinan: Pengantar untuk praktek dan penelitian, jilid 1.

http://doktorwirawan.blogspot.com/2008/07/teori-kepemimpinan-transaksional.html

5 Kebiasaan Yang Membuat Anda Sakit

Ingatkah Anda pada pesan "kuman ada di mana-mana!" Kuman bisa ada di meja kerja Anda, di baju Anda, di peralatan makan Anda, di ponsel Anda, bahkan ada di makanan Anda. Ya! sejak awal memang Anda diharuskan untuk lebih waspada dan cermat pada kuman yang selalu siap sedia mengincar Anda dan membuat Anda sakit.

Dan ada lima hal yang paling perlu Anda waspadai, karena Anda cenderung melupakan kelima hal tersebut:

1. Tidak mencuci tangan setelah beraktivitas



Aktivitas apapun, tentunya melibatkan Anda dan sebuah benda. Dan di sinilah kuman berpindah melompat ke tangan Anda. Contohnya saja setelah buang air kecil, biasanya Anda akan mengambil tisu, kemudian langsung kabur melanjutkan pekerjaan Anda, sementara Anda tak sadar bahwa di tangan Anda kuman sedang bersantai.

Kebiasaan buruk ini harus Anda lepaskan. Pastikan Anda selalu mencuci tangan Anda dengan sabun setelah Anda melakukan kegiatan, terutama yang berhubungan dengan hal-hal pembuangan dan kotoran.

2. Mencicipi buah sample di supermarket



Bagaimana Anda bisa tahu dan memutuskan membeli jeruk di supermarket jika rasanya saja Anda tak tahu? Oleh sebab itu Anda memutuskan mengambil sepotong contoh sample buah demi mencicipi manis tidaknya buah yang akan Anda beli.

Dan tahukah Anda, bahwa buah yang sedang Anda pegang ternyata telah dipegang oleh lebih dari sepasang tangan orang asing? Di mana Anda tak tahu kuman apa saja yang telah menempel di tangan-tangan mereka.

Bayangkan saja, apakah Anda mau memakan makanan yang telah dipegang tangan orang asing? Tentu tidak kan?

Ingat selalu waspada kuman yang mengancam alhasil perpindahan dari tangan ke tangan yang menyentuh buah-buahan tersebut. Masih ada cara lain mengetahui manis tidaknya buah yang akan Anda beli kok![break]

3. Menutup dengan tangan ketika bersin


Secara reflek tatkala Anda bersin Anda langsung menengadahkan tangan dan menutupnya ke hidung Anda.

Oo ow! Ini adalah kebiasaan yang buruk dan berbahaya. Ketika bersin, kuman-kuman akan ikut keluar melalui air ludah yang kemudian menempel di tangan Anda. Anda dengan santai mengerjakan aktivitas dan tanpa sadar menyebarkan kuman-kuman tersebut.

Biasakan untuk memakai tisu saat Anda bersin. Segera buang tisu tersebut kemudian cuci tangan Anda dengan sabun agar kuman tak kembali pada tubuh Anda. Dengan kebiasaan bersih Anda ini, Anda akan terhindar dari kuman influenza.

4. Menggosok mata karena gatal

Adakalanya debu membuat mata serasa gatal, stop! jangan digosok! Ambil obat tetes mata atau kompres mata untuk membuat mata kembali segar. Jangan digosok karena hal ini sangat berbahaya bagi mata Anda. Selain dapat mengakibatkan iritasi, banyak kuman juga akan berpindah dari tangan ke mata Anda.

5. Bermain dengan hewan piaraan



Hewan piaraan memang sangat lucu, Anda pun sangat menyayangi mereka, sampai-sampai rela berbagi tempat tidur dengan mereka. Kegemaran Anda memeluk dan bermain dengan hewan piaraan memang tak ada salahnya, namun ada satu hal yang Anda lupakan, Anda tidak mencuci tangan setelah seharian bermain dengan mereka.

Hewan piaraan tidak bisa menjaga kesehatan dan kebersihan dirinya sendiri, untuk itu Anda yang perlu menjaga kebersihan mereka. Dan Anda juga wajib selalu mencuci tangan dengan sabun setelah puas bermain atau beraktivitas bersama mereka. Banyak kuman dapat menular dari hewan piaraan walaupun hanya sebatas memegang dan membelai bulunya saja.

Mencegah lebih baik daripada mengobati kan? Yuk mulai kebiasaan sehat mulai dari sekarang!

Usir Bad Mood dengan Makanan

SERING bad mood? Cobalah memperhatikan asupan makanan Anda. Asupan nutrisi juga turut memengaruhi suasana hati. Untuk membantu Anda mendongkrak mood, berikut beberapa pilihan makanan yang bisa Anda padukan ke dalam diet sehari-hari.



Ayam dan kalkun

Makanan sumber protein rendah lemak ini kaya akan asam amino yang dikenal dengan tirosin. Asam amino ini bekerja meningkatkan kadar zat kimia otak dopamine dan nor-epinephrine. Kedua zat kimia ini bertanggung jawab mengolah motivasi dan waktu reaksi Anda.

Selain itu, tirosin meningkatkan kadar energi dan membantu tubuh mengontrol stres. Studi-studi, seperti dikutip situs lilomag.com, menunjukkan, tirosin bisa membantu mengatasi depresi. Temuan-temuan pendahuluan mengindikasikan manfaat sehat tirosin, bersamaan dengan asam amino lainnya, pada penderita kepikunan.

Karena perannya sebagai prekursor nor-epinephrine dan epinephrine (dua hormon utama tubuh terkait stres), tirosin juga membantu meredakan efek merugikan dari lingkungan, psikososial dan stres fisik.



Cabai merah

Capsaicin, kandungan alami dalam cabai, menstimulasi ujung saraf mulut, sehingga menghasilkan sensasi terbakar. Sebagai responnya, otak akan melepaskan endorfin, penghilang sakit alami yang menghasilkan rasa senang sementara. Jadi, semakin banyak Anda mengonsumsi cabai, efek menenangkannya juga akan semakin besar.



Pisang

Pisang menawarkan efek pembangkit mood dengan paduan vitamin B6, A dan C, serat, triptofan, kalium, fosfor, besi, protein dan karbohidrat sehat. Dengan mengonsumsi sebuah pisang, Anda akan mendapatkan energi cepat dari kandungan fruktosa dan energi berkelanjutan dari serat. Hal ini membantu mencegah naik-turunnya gula darah serta penurunan energi dan mood. Karbohidrat membantu penyerapan tirptofan dalam otak, dan vitamin B6 membantu mengubah triptofan menjadi serotonin pembangkit mood.

Selain itu, pisang juga kaya kalium. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan mood, kalium sangat diperlukan untuk mengatur kadar cairan dan menjaga agar otot tetap bekerja dengan benar, yang membuat Anda merasa lebih berenergi. Di samping itu, pisang juga menawarkan besi, yang sangat penting untuk memproduksi energi dan melawan keletihan.



Cokelat

Cokelat mengandung berbagai komponen yang diyakini bekerja mengubah biokimia otak dengan cara postif. Cokelat mengandung triptofan, prekursor serotonin, yang berperan penting dalam mengangkat mood. Sebagian besar obat antidepresi yang diresepkan juga bekerja meningkatkan kadar serotonin. Selain memperbaiki mood, cokelat juga bekerja meredakan kecemasan. Efek ini berasal dari kandunagn GABA, sebuah protein yang mempunyai efek menenangkan suasana hati.



Sereal

Sereal juga bisa membantu meredakan depresi. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology and Community Health menemukan, orang-orang yang memiliki kadar nutrisi rendah mengalami lebih banyak gejala depresi. Selain itu, kekurangan asam folat bisa menghambat kerja obat antidepresi. Anda bisa mengatasi masalah kekurangan nutrisi ini dengan mengonsumsi semangkuk sereal kaya besi dan vitamin setiap pagi.


Sumber: Media Indonesia

Burger Perbesar Risiko Asma

ANAK-anak yang makan tiga atau lebih burger seminggu, menurut temuan peneliti, berisiko lebih besar menderita asma dan wheezing (bunyi yang timbul saat bernapas akibat penyempitan saluran pernapasan). Jadi, jangan manjakan lidah buah hati Anda dengan burger. Ajarilah anak mencintai buah dan sayuran.

Apa penyebabnya? Peneliti mengklaim bahwa risiko ekstra ini tidak hanya disebabkan oleh diet kaya daging saja. Tapi, kondisi ini juga dipicu oleh kurangnya buah dan sayuran segar.



"Buah dan sayuran mengandung antioksidan dan faktor-faktor biologi aktif lainnya. Kandungan ini berperan positif dalam mencegah asma," tutur Dr Gabriele Nagel dari Ulm University, di Jerman, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Kamis (3/6).

Studi yang mempelajari 50.000 anak dari 20 negara ini menemukan bahwa diet gaya Mediterania bisa mengurangi risiko asma pada generasi muda. Diet Mediterania menganjurkan banyak konsumsi buah, sayuran, gandum utuh, kacang-kacangan, ikan serta minyak zaitun.

Para orangtua dimintai keterangan mengenai kebiasaan makan anak mereka dan apakah anak pernah menderita asma atau wheezing.

Hasil menunjukkan, anak-anak yang makan diet kaya buah cenderung jarang mengeluhkan wheezing. Hal ini, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Thorax ini, berlaku pada anak dari negara miskin dan negara kaya. Sedang makan tiga atau lebih burger seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko, khususnya di negara-negara kaya.

Akan tetapi, diet yang secara umum kaya daging tidak meningkatkan risiko. Hal ini membuat peneliti menyimpulkan adanya pengaruh faktor gaya hidup lainnya.

Sumber: Media Indonesia

Kamis, 03 Juni 2010

Konstruksi Sosial atas Realitas dan Konstruksi Sosial Media Massa


A. Kritik terhadap Teori Konstruksi Sosial

Seperti yang sudah dijelaskan pada pertemuan lalu, bahwa Peter L. Berger dan Thomas Luckman menjelaskan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga tahap, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Tiga proses ini terjadi di antara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat.
Substansi teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Berger dan Luckman adalah proses simultan yang terjadi secara alamiah melalui bahasa dalam kehidupan sehari-hari pada sebuah komunitas primer dan semi-sekunder. Basis sosial teori dan pendekatan ini ialah masyarakat transisi-modern di Amerika pada sekitar tahun 1960-an, di mana media massa belum menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dibicarakan. Dengan demikian, teori konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckman tidak memasukkan media massa sebagai variabel atau fenomena yang berpengaruh dalam konstruksi sosial atas realitas.

Pada kenyatannya konstruksi sosial atas realitas berlangsung lamban, membutuhkan waktu yang lama, bersifat spasial, dan berlangsung secara hierarkis-vertikal, di mana konstruksi sosial berlangsung dari pimpinan ke bawahannya, pimpinan kepada massanya, kyai kepada santrinya, guru kepada muridnya, orang tua kepada anaknya, dan sebagainya.

Ketika masyarakat semakin modern, teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckman ini memiliki kemandulan dan ketajaman atau dengan kata lain mampu menjawab perubahan zaman, karena masyarakat transisi-modern di Amerika Serikat telah habis dan berubah menjadi masyarakat modern dan postmodern, dengan demikian hubungan-hubungan sosial antarindividu dengan kelompoknya, pimpinan dengan kelompoknya, orang tua dengan anggota keluarganya menjadi sekunder-rasional. Hubungan-hubungan sosial primer dan semi-sekunder hampir tak ada lagi dalam kehidupan masyarakat modern dan postmodern. Maka, teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckman menjadi tidak bermakna lagi.

Di dalam buku yang berjudul, Konstruksi Sosial Media Massa; Realitas Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik, teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Thomas Luckman telah direvisi dengan melihat variabel atau fenomena media massa menjadi hal yang substansial dalam proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Artinya, sifat dan kelebihan media massa telah memperbaiki kelemahan proses konstruksi sosial atas realitas yang berjalan lambat itu. Substansi “konstruksi sosial media massa” adalah pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas sehingga konstruksi sosial yang berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa, massa cenderung apriori, dan opini massa cenderung sinis.

Posisi “konstruksi sosial media massa” adalah mengoreksi substansi kelemahan dan melengkapi “konstruksi sosial atas realitas”, dengan menempatkan seluruh kelebihan media massa dan efek media pada keunggulan “konstruksi sosial media massa” atas “konstruksi sosial atas realitas”. Namun, proses simultan yang digambarkan di atas tidak bekerja secara tiba-tiba, namun terbentuknya proses tersebut melalui beberapa tahap penting.

B. Proses Kelahiran Konstruksi Sosial Media Massa

Dari konten konstruksi sosial media massa, proses kelahiran konstruksi sosial media massa melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1) Tahap menyiapkan materi konstruksi
Ada tiga hal penting dalam tahap atau proses persiapan materi konstruksi, yaitu:
a) Keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Sebagaimana diketahui, saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimiliki oleh kapitalis. Dalam arti, media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk menjadikan media massa sebagai mesin penciptaan uang dan penggandaan modal. Semua elemen media massa, termasuk orang-orang media massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalah membuat media massa laku di masyarakat.
b) Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini adalah empati, simpati, dan berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun ujung-ujungnya adalah untuk “menjual berita” dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis.
c) Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap media massa, namun, akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkan jati dirinya, walaupun slogan-slogan tentang visi ini tetap terdengar.

2) Tahap sebaran konstruksi
Sebaran konstruksi media massa dilakukan melalui strategi media massa. Konsep konkret strategi sebaran media massa masing-masing berbeda, namun prinsip utamanya adalah real-time. Media elektronik memiliki konsep real-time yang berbeda dengan media cetak. Karena sifatnya yang langsung (live), maka yang dimaksud dengan real-time oleh media elektronik adalah seketika disiarkan, seketika itu juga pemberitaan sampai ke pemirsa atau pendengar. Namun bagi varian-varian media cetak, yang dimaksud dengan real-time terdiri dari beberapa konsep hari, minggu, atau bulan, seperti harian, mingguan, dan bulanan. Walaupun media cetak memiliki konsep real-time yang tertunda, namun konsep aktualitas menjadi pertimbangan utama sehingga pembaca merasa tepat waktu memperoleh berita tersebut.

3) Tahap pembentukan konstruksi



a) Tahap pembentukan konstruksi realitas

Tahap berikut setelah sebaran konstruksi, di mana pemberitaan telah sampai pada pembaca dan pemirsanya, yaitu terjadi pembentukan konstruksi di masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung. Pertama, konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbentuk di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media massa sebagai suatu realitas kebenaran.

Kedua, kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap generik dari tahap pertama. Bahwa pilihan orang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa. Ketiga, menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, di mana seseorang secara habit tergantung pada media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan.

b)Tahap pembentukan konstruksi citra

Konstruksi citra yang dimaksud bisa berupa bagaimana konstruksi citra pada sebuah pemberitaan ataupun bagaimana konstruksi citra pada sebuah iklan. Konstruksi citra pada sebuah pemberitaan biasanya disiapkan oleh orang-orang yang bertugas di dalam redaksi media massa, mulai dari wartawan, editor, dan pimpinan redaksi. Sedangkan konstruksi citra pada sebuah iklan biasanya disiapkan oleh para pembuat iklan, misalnya copywriter. Pembentukan konstruksi citra ialah bangunan yang diinginkan oleh tahap-tahap konstruksi. Di mana bangunan konstruksi citra yang dibangun oleh media massa ini terbentuk dalam dua model, yakni model good news dan model bad news. Model good news adalah sebuah konstruksi yang cenderung mengkonstruksi suatu pemberitaan sebagai pemberitaan yang baik. Sedangkan model bad news adalah sebuah konstruksi yang cenderung mengkonstruksi kejelekan atau memberi citra buruk pada objek pemberitaan.

4) Tahap konfirmasi

Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa maupun pembaca dan pemirsa memberi argumentasi dan akunbilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.

Daftar Pustaka

Bungin, Burhan. 2007. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Bungin, Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Goodman, Douglas J, dan George Ritzer. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.