ALOHA

Blog ini berisi tentang warna-warni kehidupan yang mencakup semua aspek hidup manusia seperti iman, realitas hidup, sains, masalah-masalah sosial dan sastra.

Minggu, 25 Maret 2012

Fungsi Komunikasi bagi Masyarakat


Dewasa kini ilmu komunikasi kian maju dan berkembang pesat, seiring aplikasi metode komunikasi dalam masyarakat, dimana secara kasap mata bahwa hampir sebagian besar ummat manusia dengan berbagai golongan dan strata dipastikan bersentuhan dengan media atau perangkat komunikasi dalam hidup kesehariannya. Hal ini menandakan bahwa fungsi dan perannya semakin dirasakan, serta menjadi alat yang perlu dimiliki ataupun dinikmati, baik untuk kebutuhan maupun perlengkapan hidup, dengan demikian keberadaan kemajuannya tersebut menjadi apresiasi ataupun referensi untuk kemajuan ilmu-ilmu lainnya dalam menciptakan apa yang menjadi tujuan komunikasi terhadap kemajuan manusia.
Berkaitan hal itu, untuk melihat kajian secara khusus tentang fungsi komunikasi bagi masyarakat, ini dapat diamati dari tulisan William I. Gorden (1978) dan apresiasi Mulyana (2007:5-38) mengatakan bahwa sedikitnya empat fungsi yang komunikasi bagi masyarakat, yakni komunikasi berfungsi sebagai: (1) sumber peningkatan pola sosial; (2) sumber peningkatan kemampuan daya ekspresif; (3) sumber peningkatan pola ritual; dan (4) sumber instrumental kemajuan hidup. Menurut Mulyana, dalam prosesnya keempat fungsi ini saling mengisi dan tidak saling meniadakan (mutually exclusive), cenderung terdapat suatu fungsi yang lebih dominan pengaruhnya ke masyarakat ketimbang yang lainnya.


Fungsi pertama adalah komunikasi berfungsi terhadap masyarakat karena mampu meningkatkan pola-pola sosial. Peningkatan yang maksud yakni mampu membangun konsep diri manusia maupun aktualisasi diri untuk kelangsungan hidup kita, serta untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan atau ketegangan, melalui komunikasi yang menghibur dan memupuk hubungan kerja sama dengan komunikasi dengan orang lain (misalnya melalui keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota, dan negara) kesemuanya untuk mencapai berbagai tujuan hidup bersama.
Fungsi kedua adalah komunikasi berfungsi terhadap masyarakat karena sebagai  sumber peningkatan kemampuan daya ekspresif yang dilakukan baik secara sendirian ataupun dalam kelompok. Menurut Mulyana bahwa, komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi) kita. Perasaan-perasaan tersebut dikomunikasikan terutama melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan seperti: sayang, peduli, rindu, simpatik, gembira, sedih, takut, prihatin, marah, dan benci, kesemuanya disampaikan sebagai simbol ekspresif yang disampaikan lewat kata-kata (namun terutama lewat perilaku nonverbal) dan melalui media tertentu (musik, lukisan, drama, dan tari-tarian).
Fungsi ketiga adalah komunikasi berfungsi terhadap masyarakat karena sebagai  sumber peningkatan pola ritual melalui upacara-upacara keagamaan dari agama tertentu. Sebagai bagian dari proses komunikasi, menurut Mulyana bahwa kegiatan ritual tersebut berlangsung dari upacara kelahiran, sunatan, ulang tahun, pertunangan, pernikahan, ulang tahun perkawinan, hingga upacara kematian. Dalam acara-acara tersebut, orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku simbolik yang menggambarkan komunikasi ritualisasi. Berkaitan proses komunikasi tersebut, kegiatan ritus-ritus juga dilakukan, seperti: kegiatan berdoa (sholat, sembahyang, dan misa), membaca kitab suci, naik haji, upacara bendera, upacara wisuda, perayaan lebaran, dan natal, kesemuanya disebut komunikasi ritual. Secara sosiologis, mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut merupakan penegasan dari hubungan masyarakat melalui keluarga, komunitas, suku atau etnis, bangsa, negara, dan keagamaan.
Fungsi keempat adalah komunikasi berfungsi terhadap masyarakat karena sebagai  sumber instrumental kemajuan hidup, seperti sebagai: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan sebagai sumber hiburan. Kesemuanya unsur instrumen ini mengarahkan proses persuasif (membujuk). Komunikasi yang berfungsi memberi-tahukan atau menerangkan (to inform) menurut Mulyana, bahwa mengandung muatan persuasif, dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui, bahkan komunikasi yang sifatnya menghibur (to entertain) pun secara tidak langsung ditujukan untuk membujuk khalayak untuk mampu melupakan persoalan hidup mereka.
Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga mampu berfungsi sebaliknya yakni berkemampu-an untuk menghancurkan hubungan atau komunikasi tersebut. Menurut Mulyana, bahwa studi komunikasi membuat kita peka terhadap berbagai strategi yang dapat kita gunakan dalam bekerja lebih baik dengan orang lain atau lembaga ini demi keuntungan bersama. Secara sosiologis, komunikasi berfungsi sebagai instrumen dalam rangka untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik untuk tujuan jangka pendek maupun dalam rangka jangka yang panjang. Tujuan yang jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian, menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati dan empati, keuntungan material, ekonomi, dan politik. Sedangkan untuk tujuan yang jangka panjang, misalnya keahlian berbicara di depan orang atau pandai berpidato, ahli perundingan, menjadi politikus handal, pandai berbahasa asing, dan keahlian menulis.